Kau tau? Tertawa bersama mu cukup membuatku gugup setengah hidup.
Stengah hidup?
Ya.. karena selama ini aku mati.
Hatiku mogok merasa, hingga ia hampir tuna cinta.
Jantungku koma, mungkin sebentar lagi alpa.
Lalu airmataku lelah mengalir, sepertinya ia ingin resign jadi tumbal lelaki.
Entah mengapa kau datang membawa pelangi.
Hingga aku jadi berwarna-warni.
Kadang merah, tak jarang jadi ungu
Mungkinkah kau adalah jawaban dari doa-doaku?
Atau hanya sebagai lalat yang numpang lewat.
Aku tak tau. Apa kau tau?
Yang jelas aku menikmati setiap jengkal langkah kita.
Berbincang denganmu memang membuatku mengawan
Tapi aku takut untuk jatuh terlalu tinggi dan rasai sakit yang lebih gila dari cinta ini.
Akh.. cinta.
Aku tak yakin akan rasa ini.
Kau bagaimana? Apa juga cintai manusia ini.
Aku kira kita sama.
Ah? Benarkah??
Ada saat dimana kau amat cemas akanku,
Dan tanpa sebab kau buat aku terpingkal karenanya.
Ouh.. bukan terpingkal, sayang.
Aku melompat girang, lalu berguling-guling pada taman bunga yang kulukis dalam bayang-bayang.
Tapi lagi-lagi aku takut melompat lebih tinggi. Karena aku takut lebih sakit lagi.
Atau saat kau amat perhatian.
Aku benar-benar melangit. Terbang bersama merpati.
Tapi aku tak punya sayap yang indah, sayang.
Akh… mimpiku terlalu imaji.
Atau kau sengaja membuatku ber-ingin.
Hmm…
Mungkinkah kau akan jadi manusia kesekian yang tertawa dalam tangisku yang sendu.
Mungkin? Tidak?
Tenang, cinta. Aku tak akan terlalu tinggi melangit
Tak akan terlalu indah bermimpi
Karena aku tak akan jauh berharap.
Tentu, karena kita main-main.
Ah apakah kita benar main-main?
Laman
Senin, 26 Agustus 2013
BERLARI
Dulu, Betapapun kita berpisah dan kau menjauh,
aku masih menunggumu berbalik dan menebar bunga senyum untukku.
Ya...
Walau inginku terlalu mimpi, anganku tak lelah berdiri tegak di jalan ini.
Di sini kita bertemu
Dan di sini pula akhirnya kita berbagi punggung
menyedihkan ya?
Kau membuat cerita yang menurutku terlalu imaji.
"Kita berbeda!," ucapmu sebelum pergi.
Bukankah perbedaan itu yang membuat kita satu?
Kurasa kau hanya kehilangan akal untuk melucu.
Dan kini kau 'tlah bersamanya.
Apa kau mencariku dalam sosoknya?
yakinlah, aku tak 'kan pernah akan kau temukan pada siapa-siapa
Kau hanya lari.
Tentu hanya lari.
Tapi sayangnya pelarianmu berkenalan dengan nyaman.
Sedang aku di sini masih sendiri,
menunggumu sambil memperbaiki lampu jalan.
Agar kelak jika kau ingin kembali bisa dengan cepat temukan sosokku yang kian habis dimakan rindu.
Tapi, hari ini aku sadar.
Menunggumu sama saja bunuh diri.
Yaa...
Karena akulah yang sebenarnya pelarian, bukan dia.
Untukmu yang lama kurindu,
ktika kau ingin kembali jangan kaget saat tak kautemui aku di situ.
Karena aku 'tlah pergi,
pula sudah matikan lampu.
aku masih menunggumu berbalik dan menebar bunga senyum untukku.
Ya...
Walau inginku terlalu mimpi, anganku tak lelah berdiri tegak di jalan ini.
Di sini kita bertemu
Dan di sini pula akhirnya kita berbagi punggung
menyedihkan ya?
Kau membuat cerita yang menurutku terlalu imaji.
"Kita berbeda!," ucapmu sebelum pergi.
Bukankah perbedaan itu yang membuat kita satu?
Kurasa kau hanya kehilangan akal untuk melucu.
Dan kini kau 'tlah bersamanya.
Apa kau mencariku dalam sosoknya?
yakinlah, aku tak 'kan pernah akan kau temukan pada siapa-siapa
Kau hanya lari.
Tentu hanya lari.
Tapi sayangnya pelarianmu berkenalan dengan nyaman.
Sedang aku di sini masih sendiri,
menunggumu sambil memperbaiki lampu jalan.
Agar kelak jika kau ingin kembali bisa dengan cepat temukan sosokku yang kian habis dimakan rindu.
Tapi, hari ini aku sadar.
Menunggumu sama saja bunuh diri.
Yaa...
Karena akulah yang sebenarnya pelarian, bukan dia.
Untukmu yang lama kurindu,
ktika kau ingin kembali jangan kaget saat tak kautemui aku di situ.
Karena aku 'tlah pergi,
pula sudah matikan lampu.
Minggu, 18 Agustus 2013
SAJAK DI HARI MERDEKA
Kawan..
Hari ini aku hanya akan merapat dan menatap pantai kita yang kian hitam.
Sambil menghisap lambat sebatang rokok yang dengannya aku berharap bisa mengelabui pandangan.
yap! kotoran laut di depan, berubah jadi berlian.
Cling!!
Akh… Bukan apa-apa,
Sudah kucoba seperti Balaputeradewa.
Menguasai Asia tenggara.
Tapi apa daya, layarku tak mampu terkembang bangga lebih lama.
Sepertinya ini buatan Cina, bukan Amerika.
Padahal sangat ingin kupamerkan karyaku pada dunia.
Sekalian menjaja, siapa tahu ada yang suka.
“Bu… beli bu…”
“Pak… beli pak..”
“Tiga seribu aja..”
Tapi, apa kau tau?
Ikan-ikan saja berpaling dariku.
Ukh, ia!
Aku lupa.
Negeri kita tak lagi sebesar dalam peta. (naf)
17 Agustus 2013
Hari ini aku hanya akan merapat dan menatap pantai kita yang kian hitam.
Sambil menghisap lambat sebatang rokok yang dengannya aku berharap bisa mengelabui pandangan.
yap! kotoran laut di depan, berubah jadi berlian.
Cling!!
Akh… Bukan apa-apa,
Sudah kucoba seperti Balaputeradewa.
Menguasai Asia tenggara.
Tapi apa daya, layarku tak mampu terkembang bangga lebih lama.
Sepertinya ini buatan Cina, bukan Amerika.
Padahal sangat ingin kupamerkan karyaku pada dunia.
Sekalian menjaja, siapa tahu ada yang suka.
“Bu… beli bu…”
“Pak… beli pak..”
“Tiga seribu aja..”
Tapi, apa kau tau?
Ikan-ikan saja berpaling dariku.
Ukh, ia!
Aku lupa.
Negeri kita tak lagi sebesar dalam peta. (naf)
17 Agustus 2013
Rabu, 19 Juni 2013
BADAI
suatu kali aku mengadu pada lengan ibu,
“Bu, tolong tutup kupingku.. mengapa suara badai seperti tertawaan setan?”
Ucapku
Tapi, ibu hanya tersenyum. Melepaskan tanganku dari kupingnya, lalu berujar
“Dengar nak, Tuhan adalah composer music paling ulung”.
Kali lain, aku mengadu pada mata ibu,
“Bu. Tolong tutup mataku. Aku takut menatap pohon itu. Bergoyang seperti iblis kegirangan”
Tapi, lagi lagi ibu tersenyum. Sambil membuka matanya, ia berucap
“Lihat nak, mereka yang sedang asyik bersukur menikmati gelitikan angin. Mereka senang. Sangat lucu.”
Hari lalu, aku mengadu pada perut ibu…
“Ibu, aku kedinginan. Tolong masukkan lagi aku dalam rahimmu”
Tapi, disampingku ternyata ibu sedang bernyanyi.
“Tik tik tik bunyi hujan di atas genting. Airnya turun tidak terkira. Cobalah tengok dahan dan ranting. Pohon dan kebun basah semua.
Tik tik tik bunyi hujan bagai bernyanyi. Saya dengarkan tidaklah jemu. Kebun dan jalan terlihat sunyi. Tiada seorang berani lalu.
Tik tik tik bunyi hujan dalam selokan. Tempatnya itik berenang-renang. Besenda gurau bersenang-senang. Karena hujan berenang renang”
Ia bernyanyi sampai badai henti
Hari ini, badai datang lagi.
Dan aku menyambutnya dengan senyum ibu.
Sambil bernyanyi, lalu berucap
“Kawan, kita ketemu lagi.”
Padang, 19 Juni 2013
“Bu, tolong tutup kupingku.. mengapa suara badai seperti tertawaan setan?”
Ucapku
Tapi, ibu hanya tersenyum. Melepaskan tanganku dari kupingnya, lalu berujar
“Dengar nak, Tuhan adalah composer music paling ulung”.
Kali lain, aku mengadu pada mata ibu,
“Bu. Tolong tutup mataku. Aku takut menatap pohon itu. Bergoyang seperti iblis kegirangan”
Tapi, lagi lagi ibu tersenyum. Sambil membuka matanya, ia berucap
“Lihat nak, mereka yang sedang asyik bersukur menikmati gelitikan angin. Mereka senang. Sangat lucu.”
Hari lalu, aku mengadu pada perut ibu…
“Ibu, aku kedinginan. Tolong masukkan lagi aku dalam rahimmu”
Tapi, disampingku ternyata ibu sedang bernyanyi.
“Tik tik tik bunyi hujan di atas genting. Airnya turun tidak terkira. Cobalah tengok dahan dan ranting. Pohon dan kebun basah semua.
Tik tik tik bunyi hujan bagai bernyanyi. Saya dengarkan tidaklah jemu. Kebun dan jalan terlihat sunyi. Tiada seorang berani lalu.
Tik tik tik bunyi hujan dalam selokan. Tempatnya itik berenang-renang. Besenda gurau bersenang-senang. Karena hujan berenang renang”
Ia bernyanyi sampai badai henti
Hari ini, badai datang lagi.
Dan aku menyambutnya dengan senyum ibu.
Sambil bernyanyi, lalu berucap
“Kawan, kita ketemu lagi.”
Padang, 19 Juni 2013
SELAMAT ULANG TAHUN
Senja ini, aku sendiri…
Meniup hari-hari kita yang semakin sepi
Tanpa kau yang selalu bernyanyi entah, hingga rumah kita tak pernah nyepi, karena tawa.
Senja ini, aku sendiri …
Memotong tumpukan kenangan kita disini
Menjadi .
“kue pertama untukmu,” menyodorkannya padamu yang selalu tersenyum di daun pintu kita yang usang.
“enak,?” tanyaku, gagap.
Menunggumu memamah kenang, aku Iseng pandangi kita pada leptop bermerek ASUS, yang kau tinggalkan.
Kita selalu membukanya bukan, saat berkumpul menikmati malam.
Bercerita tentang bob marley atau seorang bernama selno gumira.
Akh.. bagaimana caranya mengulang mimpi?
Kau tau,
Ada tawa yang tak kan kulupa
Ada tangis yang selalu kudamba
Ada … ah, kau tentu tau rupanya.
Senja ini, aku sendiri..
Bernyanyi lagu kebangsaan kita,
Sambilnya aku membaca postingan seorang saudara di layar komputer
” UK-KES sekarank ulang tahun ,, meskipun tidak ada acara ,, setidaknya marilah kita berkumpul di sekre tercinta kita ,, !
Saatnya make a wish…
18 Juni 2013
Jumat, 07 Juni 2013
Ibu, Tunggu Aku
Ibu, Tunggu Aku
Tremku laju diantara pasawangan yang masih malu dirayu banyu.
sekarang pukul enam lewat tujuh.
hujan turun sedari subuh
memeluk takbir, lalu bersama mencumbu sajadah.
bahkan sampai salam terakhir sholatku, ia tak kunjung henti bertasbih,
banyu itu.
AKu hendak menjemput ibu.
ia tersesat dalam doanya yang panjang bergulung.
"Ibu rindu bermain bersama lupa. jadi ibu masuk labirin doa"
begitu sms ibu kubaca selesai melipat mukena tuanya.
aku ingat tiga bulan lalu,
ibu mengirimku sms serupa
tapi ketika aku sampai dilereng doa
ibu tengah minum teh bersama temannya, si bunian
hari ini, entah bersama siapa ia bermain ayunan.
ah ibu,
tunggu aku.
Silaiang, 7 Juni 2013
Tremku laju diantara pasawangan yang masih malu dirayu banyu.
sekarang pukul enam lewat tujuh.
hujan turun sedari subuh
memeluk takbir, lalu bersama mencumbu sajadah.
bahkan sampai salam terakhir sholatku, ia tak kunjung henti bertasbih,
banyu itu.
AKu hendak menjemput ibu.
ia tersesat dalam doanya yang panjang bergulung.
"Ibu rindu bermain bersama lupa. jadi ibu masuk labirin doa"
begitu sms ibu kubaca selesai melipat mukena tuanya.
aku ingat tiga bulan lalu,
ibu mengirimku sms serupa
tapi ketika aku sampai dilereng doa
ibu tengah minum teh bersama temannya, si bunian
hari ini, entah bersama siapa ia bermain ayunan.
ah ibu,
tunggu aku.
Silaiang, 7 Juni 2013
Kamis, 30 Mei 2013
22
5 hari lalu
hari itu kau menculikku lalu meraung seperti ambulance yang kepepet jalan Jakarta.
Ada apa?, tanyaku cemas setengah mati.
ada yang akan meninggal, jawabmu sambil membanting stir ke arah utara.
"aku ingin menguburnya, segera di laut jawa!, umurnya tinggal 120 jam lagi.
kita harus cepat!
26 mei 2013
Kau tau ini aneh, serumu di bangku kemudi.
Aku begitu takut tinggalkan ia sendiri.
27 mei 2013
72 jam lagi!
aku tengah siapkan kembang melati,
agar ia tetap wangi di saat terakhir nanti.
28 mei 2013
Kau tak berkabar.
sibuk memacu kudamu, sekencang jaguar.
29 mei 2013
hei, kita hampir sampai, teriakmu
tiba-tiba kau bagunkan aku
bau hari baru itu harum ya, kau terkekeh
30 mei 2013
oke. ini akhirnya,
kenakan pakaian yang kutinggalkan di wawl deru waktu, cha! perintahmu
lekas, pantik apinya
21 harus kita kremasi!
maka. kita berdoa depan abu yang siap kau tenggelamkan dalam laut kenangan.
akhh...
kau tau, doaku seperti apa?
aku tak berdoa.
hanya ucap selamat datang dua puluh dua
selamat jadi baru, kawan ku....
hari itu kau menculikku lalu meraung seperti ambulance yang kepepet jalan Jakarta.
Ada apa?, tanyaku cemas setengah mati.
ada yang akan meninggal, jawabmu sambil membanting stir ke arah utara.
"aku ingin menguburnya, segera di laut jawa!, umurnya tinggal 120 jam lagi.
kita harus cepat!
26 mei 2013
Kau tau ini aneh, serumu di bangku kemudi.
Aku begitu takut tinggalkan ia sendiri.
27 mei 2013
72 jam lagi!
aku tengah siapkan kembang melati,
agar ia tetap wangi di saat terakhir nanti.
28 mei 2013
Kau tak berkabar.
sibuk memacu kudamu, sekencang jaguar.
29 mei 2013
hei, kita hampir sampai, teriakmu
tiba-tiba kau bagunkan aku
bau hari baru itu harum ya, kau terkekeh
30 mei 2013
oke. ini akhirnya,
kenakan pakaian yang kutinggalkan di wawl deru waktu, cha! perintahmu
lekas, pantik apinya
21 harus kita kremasi!
maka. kita berdoa depan abu yang siap kau tenggelamkan dalam laut kenangan.
akhh...
kau tau, doaku seperti apa?
aku tak berdoa.
hanya ucap selamat datang dua puluh dua
selamat jadi baru, kawan ku....
Senin, 27 Mei 2013
cerita duapupuhdua
Dua puluh dua kali, kau kalah!, teriakku seru menadah tangan padanya di senja yang kian merah.
Saat itu, tengah bergulir kelereng berwarna putih susu diatas tanah yang kini berubah gedung-gedung beratap cerah.
Belum seratus kali, lenguhnya…
Ayo main lagi!
Tapi azan menghentikan debat kami yang lebih seru dari MPR saat ini.
Nakkkkkkkkkkkk… pulang, perintah ibu dari balik papan bertulis merdeka atau mati.
Lalu gemerncing kelereng menemani langkah riangku yang memenuhi tas bolongku. tentu.
Cing.. cing..
Waktu itu masih banyak pohon besar disini, kita bermain disana bukan.
Tunjukku pada gedung megah bertulis Bank BRI
Dan kau hanya mengangguk setuju.
Hei.. dua puluh dua tahun, kau kemana?
Mencoba perbaiki gambar Sulawesi yang kau tertawai dulu, jawabmu
Lalu?
Masih seperti dulu, rupanya aku tak pernah bisa menjadikannya indah, seperti inginmu
Wajah itu terlipat, sendu
akh..
Kau tak pernah tau, sejak kau datang hari itu
Telah kau lukis Indonesia itu lebih baik dari gambarmu
Di dalam hatimu
Aku lihat itu.
Jelasku,
hanya dalam hati.
Hei, Ayo main lagi, ajaknya sambil mengangkat dua puluh dua kelereng…
Tiba-tiba.
Padang, 27 Mei 2013
Saat itu, tengah bergulir kelereng berwarna putih susu diatas tanah yang kini berubah gedung-gedung beratap cerah.
Belum seratus kali, lenguhnya…
Ayo main lagi!
Tapi azan menghentikan debat kami yang lebih seru dari MPR saat ini.
Nakkkkkkkkkkkk… pulang, perintah ibu dari balik papan bertulis merdeka atau mati.
Lalu gemerncing kelereng menemani langkah riangku yang memenuhi tas bolongku. tentu.
Cing.. cing..
Waktu itu masih banyak pohon besar disini, kita bermain disana bukan.
Tunjukku pada gedung megah bertulis Bank BRI
Dan kau hanya mengangguk setuju.
Hei.. dua puluh dua tahun, kau kemana?
Mencoba perbaiki gambar Sulawesi yang kau tertawai dulu, jawabmu
Lalu?
Masih seperti dulu, rupanya aku tak pernah bisa menjadikannya indah, seperti inginmu
Wajah itu terlipat, sendu
akh..
Kau tak pernah tau, sejak kau datang hari itu
Telah kau lukis Indonesia itu lebih baik dari gambarmu
Di dalam hatimu
Aku lihat itu.
Jelasku,
hanya dalam hati.
Hei, Ayo main lagi, ajaknya sambil mengangkat dua puluh dua kelereng…
Tiba-tiba.
Padang, 27 Mei 2013
Senin, 13 Mei 2013
KOTA MATI
11 Mei
1 pm
Delapan belas jam menuju kota mati
Dan siul burung hantu yang kian basi
Yang duduk manis menunggu dua kompi tawa bayi
“Kota ini hambar, kawan”
5 pm
Lima jam yang mengerang
Mengeram
Tapi terpaksa diam
Disana, singgalang tengah minum kopi dengan merapi
“Mau kopi,” tawarnya
Lalu tersenyum seperti ibu yang menyemangati diri 10 jam lalu
“Iya. Silahkan,” senyumku mengembang lagi.
6.35 pm
Usus dan lambungku tengah bergulat hebat,
menendang, menceracau, lalu mendobrak kuat
“Halo.. dunia,” salam daging yang sudah kulumat
“Kami datang lagi.”
Tepat di kelok dua puluh empat
8 pm
Teruslah bersorak, kawan
Aku sedang nikmati pasawangan
3.30 am
Dua depa dan tanpa lawan
Asik melenggang 350 mil/jam
“Sudah sampai mana?,” tanya seorang yang mimpinya direnggut lagu
“Kota boneka!,” jawab yang duduk disamping jendela. ia disihir sibolga
Lalu dikumpulnya lagi sisa-sisa malam yang berserak di penghujung subuh
9.37 am
Lepaskan penatmu, sayang
Selamat mengadu pada dipan kerasku
Fansury kini tersenyum
Tamunya datang lagi
“Selamat datang di kota sejarah, kota budaya, dan kota religi,” sambut seorang di baliho
Kawan, kita sampai
12 mei
10 am
Lima ratus langkah lelah
Menjejal setapak mendamba 7,5 m telah
Hei lihat! Tinggal 50 langkah
Teruslah tatapi langit cerah,
Agar kau tak menyerah
Lima ratus langkah tabah
Sebentar lagi sayang, kita beristirah
Teruslah semangati kakimu yang kian lelah
Untukmu, batu panjang yang megah
Akan kucerita saat malam sedang cerah
Tentang kota megah sampai kau mati, pak gagah
Lalu bersiaplah jadi indah
Barus, 13 mei 2013
1 pm
Delapan belas jam menuju kota mati
Dan siul burung hantu yang kian basi
Yang duduk manis menunggu dua kompi tawa bayi
“Kota ini hambar, kawan”
5 pm
Lima jam yang mengerang
Mengeram
Tapi terpaksa diam
Disana, singgalang tengah minum kopi dengan merapi
“Mau kopi,” tawarnya
Lalu tersenyum seperti ibu yang menyemangati diri 10 jam lalu
“Iya. Silahkan,” senyumku mengembang lagi.
6.35 pm
Usus dan lambungku tengah bergulat hebat,
menendang, menceracau, lalu mendobrak kuat
“Halo.. dunia,” salam daging yang sudah kulumat
“Kami datang lagi.”
Tepat di kelok dua puluh empat
8 pm
Teruslah bersorak, kawan
Aku sedang nikmati pasawangan
3.30 am
Dua depa dan tanpa lawan
Asik melenggang 350 mil/jam
“Sudah sampai mana?,” tanya seorang yang mimpinya direnggut lagu
“Kota boneka!,” jawab yang duduk disamping jendela. ia disihir sibolga
Lalu dikumpulnya lagi sisa-sisa malam yang berserak di penghujung subuh
9.37 am
Lepaskan penatmu, sayang
Selamat mengadu pada dipan kerasku
Fansury kini tersenyum
Tamunya datang lagi
“Selamat datang di kota sejarah, kota budaya, dan kota religi,” sambut seorang di baliho
Kawan, kita sampai
12 mei
10 am
Lima ratus langkah lelah
Menjejal setapak mendamba 7,5 m telah
Hei lihat! Tinggal 50 langkah
Teruslah tatapi langit cerah,
Agar kau tak menyerah
Lima ratus langkah tabah
Sebentar lagi sayang, kita beristirah
Teruslah semangati kakimu yang kian lelah
Untukmu, batu panjang yang megah
Akan kucerita saat malam sedang cerah
Tentang kota megah sampai kau mati, pak gagah
Lalu bersiaplah jadi indah
Barus, 13 mei 2013
Minggu, 28 April 2013
Rindu Upacara
Hari ini, akan kudengar lagi dendang itu.
tentu,tak ketinggalan iring-iringan kaki bocah yang bergemuruh seru.
berlari walau sepatu tak utuh.
“Ayo, cepat! Nanti kita terlambat”, ucapnya, seorang dengan tas plastic merah jambu
“Akh.. gerbangnya udah ditutup,” lapor siplastik biru.
pagi yang kurindu…
Hei, bagaimana wajahmu hari ini?
aku ingin megantarmu ketempat tinggi itu lagi.
sungguh.
melawan mentari adalah inginku
untukmu, tentu
beriring lagu dan tatapan beribu disekolah dua puluh satu.
Kau tau,
rasanya lagi amat ingin berdiri tegap dihadapamu
memberi hormat walau terkadang harus beradu mata dengan surya
menatapmu saja seperti mengangkat runcingnya bambu
ohh. Sungguh indah memelukmu, dulu.
lalu menatapmu berkibar sambil kusenandungkan merdeka.
Tapi, mengapa Lantangnya kini kudenggar jauh?
mendayu tak lagi seru.
seperti lagu melayu.
bersama embun yang menangisi deadaunan layu
juga pipit yang mencicit tak lagi merdu
apa kau lelah berkibar untukku.
Sabtu, 27 April 2013
Lupa senja
lalu, biarlah sejenak kunikmati riuh ini.
peneman madre dan gorengan yang kubeli di gang sebelah rumah.
sungguh, ini seperti senja yang kita seduh desember lalu;
hei, apa kau ingat?
ah. kau tentu terlalu sibuk tuk sekedar memberi senyum pada masa lalu.
aku tau itu.
dan hari ini,
hari ini aku hanya akan menegaknya sendiri,
air mataku sendiri
padang, april2013
peneman madre dan gorengan yang kubeli di gang sebelah rumah.
sungguh, ini seperti senja yang kita seduh desember lalu;
hei, apa kau ingat?
ah. kau tentu terlalu sibuk tuk sekedar memberi senyum pada masa lalu.
aku tau itu.
dan hari ini,
hari ini aku hanya akan menegaknya sendiri,
air mataku sendiri
padang, april2013
RINDU
Apa kabar manis?
hari ini angin menyanyi namamu sepanjang detik berdentum berganti lagu.
oh. tanpa hujan,tentu!
ia berdendang bersama langit biru
seperti mengerti, daunpun ikut berseru merdu.
Tidakkah kau rasai itu?
sedang apa kau, cantik?
semalam, aku iseng menggambari rupamu yang mulai tersapu waktu.
dan kupetik bintang, tuk jadi jerawat lucumu diatas kanvasku
akh. tapi mengapa wajahmu jadi seperti domba ungu?
mungkinkah, karna saat itu kelam tengah menemaniku menghitung domba dungu?
dimana kau kini sayang?
masih ingatkah kau pada janji kita dulua
kan bertemu lagi, di akhir lagu.
akh... semoga tidurmu selalu berselimut rindu,
hari ini angin menyanyi namamu sepanjang detik berdentum berganti lagu.
oh. tanpa hujan,tentu!
ia berdendang bersama langit biru
seperti mengerti, daunpun ikut berseru merdu.
Tidakkah kau rasai itu?
sedang apa kau, cantik?
semalam, aku iseng menggambari rupamu yang mulai tersapu waktu.
dan kupetik bintang, tuk jadi jerawat lucumu diatas kanvasku
akh. tapi mengapa wajahmu jadi seperti domba ungu?
mungkinkah, karna saat itu kelam tengah menemaniku menghitung domba dungu?
dimana kau kini sayang?
masih ingatkah kau pada janji kita dulua
kan bertemu lagi, di akhir lagu.
akh... semoga tidurmu selalu berselimut rindu,
Senin, 15 April 2013
matahari redup
dan kini, aku tak mau lagi menatap senyum mentari
bahkan sedari embun yang cumbui dedaunan pagi
merayap seperti pasar pagi.
hari itu, ia berjalan beriring hingga petang hari
bertudung dan bersarung salendang penikmat kaki
ia, bernama bulan
penyeduh malamku berwarna kelabu
jadi teh hangat atau capuccinno cream khas ibu
hingga pagi dtang menyapa,
ia telah bergeriliya mencari sayuran utuh.
taoi hari itu ia tak mampu lagi masukkan gula dalam cangkirku.
bahkan untuk pindah dari dipan ungu
kaku.
dan kini, matahari itu tlah redup dimataku
bahkan semenjak ibu kaku
dan ia ikut kaku.
membantu disudut rumah yang berseliweran babu.
13 April 2013
bahkan sedari embun yang cumbui dedaunan pagi
merayap seperti pasar pagi.
hari itu, ia berjalan beriring hingga petang hari
bertudung dan bersarung salendang penikmat kaki
ia, bernama bulan
penyeduh malamku berwarna kelabu
jadi teh hangat atau capuccinno cream khas ibu
hingga pagi dtang menyapa,
ia telah bergeriliya mencari sayuran utuh.
taoi hari itu ia tak mampu lagi masukkan gula dalam cangkirku.
bahkan untuk pindah dari dipan ungu
kaku.
dan kini, matahari itu tlah redup dimataku
bahkan semenjak ibu kaku
dan ia ikut kaku.
membantu disudut rumah yang berseliweran babu.
13 April 2013
Dan
dan mentari ini terbit kembali
apa kau tak melihatnya?
tidakkah kau rasa cahayanya,
tengah rabai tubuhmu yang gigil kedinginan
ia tengah tersenyum manja,
bersiap halau hujan yang terlalu deras hingga tak sempat kau seka.
dan mungkin akan segera badai disana
didalam matamu yang kian tua.
hei, tidakkah kau sadari cecapannya.
bahkan saat dicumbuinya dedaunanmu yang layu, amat mesra?
hingga lagi, kau punya nyawa.
hayolah,
kau tentu tak ingin ia redup lagi!
apa kau tak melihatnya?
tidakkah kau rasa cahayanya,
tengah rabai tubuhmu yang gigil kedinginan
ia tengah tersenyum manja,
bersiap halau hujan yang terlalu deras hingga tak sempat kau seka.
dan mungkin akan segera badai disana
didalam matamu yang kian tua.
hei, tidakkah kau sadari cecapannya.
bahkan saat dicumbuinya dedaunanmu yang layu, amat mesra?
hingga lagi, kau punya nyawa.
hayolah,
kau tentu tak ingin ia redup lagi!
Senin, 08 April 2013
Negeri Para Nelayan
ini negeri para nelayan
tempat cadik parkir tanpa pungutan
bahkan,
ribuan senyum menghampar disemua pelosok negri.
seperti ikan yang kau jemur layaknya turis pulau bali.
tapi,
aku tak temukan ikan apapun disini
sedang sudah ribuan hari aku mendayung bidukku hingga aku mati
arungi airmata negri ini
hanya sepatu usang dan berton-ton besi, keluhmu lagi
hei...
ini negeri para nelayan, bung!
ketika kau bersiap melaut lagi
kau harus pandai kerdipi bulan dan mentari
agar kau bisa dapati ikan dan pelangi
hanya untukmu sendiri.
padang, April 2013
tempat cadik parkir tanpa pungutan
bahkan,
ribuan senyum menghampar disemua pelosok negri.
seperti ikan yang kau jemur layaknya turis pulau bali.
tapi,
aku tak temukan ikan apapun disini
sedang sudah ribuan hari aku mendayung bidukku hingga aku mati
arungi airmata negri ini
hanya sepatu usang dan berton-ton besi, keluhmu lagi
hei...
ini negeri para nelayan, bung!
ketika kau bersiap melaut lagi
kau harus pandai kerdipi bulan dan mentari
agar kau bisa dapati ikan dan pelangi
hanya untukmu sendiri.
padang, April 2013
Rabu, 27 Maret 2013
SAJAK A
Kini, kau tau?
Gemamu tak lagi kurasa.
Walau entah berapa kali kau coba berteriak di tebing duka.
Tapi seperti ditelan suka,
kau kehilangan suara.
Pula,
kulihat pelangimu kehilangan warna.
Bukankah sudah kita beli cat berjuta-juta?
Tapi mengapa?
Abu-abu saja .
Yang kau gambari di kanvasmu yang kian tua
Tidakkah kau lihat merah, kuning bahkan hijau disana?
Mereka berharap untuk kau raba.
Dan kini pula,
kulihat mendung kian mendekati kau, pak tua.
Bersiap turuni hujani tawa, yang entah dari siapa?
Kau yang kini menunduk saja,
cobalah mendongak sejenak.
Masih ada mentari di sana.
Hei..
Mengapa kau sembunyi dibalik senja?
Mengapa diam saja?
Ayolah,
aku membawakanmu pagi ceria.
Mengajakmu memulai lagi, semua.
Padang, 27 maret 2013
Gemamu tak lagi kurasa.
Walau entah berapa kali kau coba berteriak di tebing duka.
Tapi seperti ditelan suka,
kau kehilangan suara.
Pula,
kulihat pelangimu kehilangan warna.
Bukankah sudah kita beli cat berjuta-juta?
Tapi mengapa?
Abu-abu saja .
Yang kau gambari di kanvasmu yang kian tua
Tidakkah kau lihat merah, kuning bahkan hijau disana?
Mereka berharap untuk kau raba.
Dan kini pula,
kulihat mendung kian mendekati kau, pak tua.
Bersiap turuni hujani tawa, yang entah dari siapa?
Kau yang kini menunduk saja,
cobalah mendongak sejenak.
Masih ada mentari di sana.
Hei..
Mengapa kau sembunyi dibalik senja?
Mengapa diam saja?
Ayolah,
aku membawakanmu pagi ceria.
Mengajakmu memulai lagi, semua.
Padang, 27 maret 2013
Kamis, 14 Maret 2013
Ingin Mati
aku pernah bermimpi.
tenggelam di laut mati
agar tak ada yang tau aku pergi
mengambang sendiri sampai digigiti pari.
aku pernah bermimpi.
mati di dalam tidurku yang sepi
agar tak sempat kulihat kau termagu sendu,
saat malaikat maut datang memanggul palu.
tapi aku ingin mati disampingmu,
agar kau selalu ingat, aku yang selalu bernafas untukmu.
Padang, 13 Mei 2013
tenggelam di laut mati
agar tak ada yang tau aku pergi
mengambang sendiri sampai digigiti pari.
aku pernah bermimpi.
mati di dalam tidurku yang sepi
agar tak sempat kulihat kau termagu sendu,
saat malaikat maut datang memanggul palu.
tapi aku ingin mati disampingmu,
agar kau selalu ingat, aku yang selalu bernafas untukmu.
Padang, 13 Mei 2013
Rabu, 30 Januari 2013
sampai bertemu
:iyon
adalah sungai tempat labuh perahuku
yang menuntun mengeja detik sebelumku direnggut laut abu-abu
sampai bertemu, teriakmu
lalu riakmu kian laju, antar aku
hei, ketemu dimana?
sedang kau hanya tersenyum beku.
dan belum sampai aksaraku,
riakmu sudah berubah ombak berderu..
sampai bertemu, senduku ...
Selasa, 15 Januari 2013
KECEWA
kini, tak adakah lilin yang bisa kau bagi?
Bahkan untuk sekedar terangi wajanmu agar tak tumpah kutuangi pelangi.
Apalagi tuk setapak ini.
Dulu, kau selalu bermimpi jadi mentari
Tapi mengapa kini kita hanya bermain di tepian kali?
Lalu bagaimana cara panjati langit tinggi?
Jika kita hanya berkunang-kunang dalam gelapnya mimpi.
Akh...
Kau tentu tau,
Badai tak kan kekal bersemi.
Bahkan untuk sekedar terangi wajanmu agar tak tumpah kutuangi pelangi.
Apalagi tuk setapak ini.
Dulu, kau selalu bermimpi jadi mentari
Tapi mengapa kini kita hanya bermain di tepian kali?
Lalu bagaimana cara panjati langit tinggi?
Jika kita hanya berkunang-kunang dalam gelapnya mimpi.
Akh...
Kau tentu tau,
Badai tak kan kekal bersemi.
Kamis, 03 Januari 2013
DI MALAM TAHU BARU II
Hei langit,
Apa kabar malammu?
Apa kabar kejoramu?
Apa kabar bulamu?
Kau tahu, aku ingin bercerita.
Turunlah sebentar, duduk disini bersamaku.
Menyeduh waktu.
Sungguh, rupanya aku tak tertarik lagi dengan sorak sorai terompet ini.
Bahkan, pada warna-warni wajahmu nanti.
Entah mengapa, aku ingin memelukmu saja.
Agar tak jadi abu,
Seperti kembang api itu.
Berteriak lalu hilang ditelan sendu.
Menjadi dungu.
AKu, Tak ingin pergi.
Tak ingin beli peti
Untuk simpan engkau jadi masalalu.
Sungguh,
tetaplah disini.
Bersamaku mengejar mimpi
Padang, Januari 2013
Apa kabar malammu?
Apa kabar kejoramu?
Apa kabar bulamu?
Kau tahu, aku ingin bercerita.
Turunlah sebentar, duduk disini bersamaku.
Menyeduh waktu.
Sungguh, rupanya aku tak tertarik lagi dengan sorak sorai terompet ini.
Bahkan, pada warna-warni wajahmu nanti.
Entah mengapa, aku ingin memelukmu saja.
Agar tak jadi abu,
Seperti kembang api itu.
Berteriak lalu hilang ditelan sendu.
Menjadi dungu.
AKu, Tak ingin pergi.
Tak ingin beli peti
Untuk simpan engkau jadi masalalu.
Sungguh,
tetaplah disini.
Bersamaku mengejar mimpi
Padang, Januari 2013
Langganan:
Postingan (Atom)