Laman

Sabtu, 05 Mei 2012

KAU DAN HUJAN


Aku masih menyimpan rinai itu dalam lemari kacaku,
yang kita curi ketika hujan terakhir turun kebumi, hari itu.
“simpan dan perlihatkan ketika teman-temannya datang menjenguk,” ucapmu sebelum berlalu

Kau tau, aku masih ingat bagaimana ia memborbadir hari itu?
lalu kita tertawa dibawah keladi tua
Tntu saja, karna ia kusimpan brsama rinai yang kian menua

saat kau ucap sampai brtmu lagi .
kau tau, aku memluknya hingga nafasnya trsngal

ketika kau ucap bayangku tlah kau bingkai pada senja,
dan kau brjanji akan membagi bayangmu yang kau bingkai pada fajar,
aku akan menunggu bersama hujan!
ah, bodoh sekali.
aku tak mampu menympan rindu pada bising rintik

dan hari ini, sang teman mnjenguknya kembali.
seprti biasa aku mmbawanya keluar lagi,
dan biarkan ia brcengkrama lagi
sampai temannya berucap akan kembali, kuharap mereka mebawamu ikut serta

PAdang, 04 mei 2012 

AKAN KUBUAT PUISI


Jalan ini kan kubuat puisi
agar aku tak tersesat mencari knang yang kita tinggalkan dijalan Braga
untuk sekedar mngumpulkan tawa yang tak sempat kita kemas sebelum pulang
untuk sekedar mngucapkan halo pada jejak di depan pintu gerbang masa lal

Cerita ini kan kubuat puisi
agar kau tau kemana arah memnemukanku, di akhir kisah.
dan kita kenal jalan akan berlabuh
lalu kita akan sangat mudah bersua di bawah tulisan “selamat Datang Kembali”

Untukmu yang kutau sedang merindu
jangan jatuhkan semua, ktika mendengar dendang itu
sisakan sedikit untuk kita minum bersama
akupun masi menyimpan airmatamu dlam buku harianku.
agar kita bisa bersulang ketika bersua

kau tau, sejarah itu kan brulang, bukan??


Jakarta, 28 April 2012