11 Mei
1 pm
Delapan belas jam menuju kota mati
Dan siul burung hantu yang kian basi
Yang duduk manis menunggu dua kompi tawa bayi
“Kota ini hambar, kawan”
5 pm
Lima jam yang mengerang
Mengeram
Tapi terpaksa diam
Disana, singgalang tengah minum kopi dengan merapi
“Mau kopi,” tawarnya
Lalu tersenyum seperti ibu yang menyemangati diri 10 jam lalu
“Iya. Silahkan,” senyumku mengembang lagi.
6.35 pm
Usus dan lambungku tengah bergulat hebat,
menendang, menceracau, lalu mendobrak kuat
“Halo.. dunia,” salam daging yang sudah kulumat
“Kami datang lagi.”
Tepat di kelok dua puluh empat
8 pm
Teruslah bersorak, kawan
Aku sedang nikmati pasawangan
3.30 am
Dua depa dan tanpa lawan
Asik melenggang 350 mil/jam
“Sudah sampai mana?,” tanya seorang yang mimpinya direnggut lagu
“Kota boneka!,” jawab yang duduk disamping jendela. ia disihir sibolga
Lalu dikumpulnya lagi sisa-sisa malam yang berserak di penghujung subuh
9.37 am
Lepaskan penatmu, sayang
Selamat mengadu pada dipan kerasku
Fansury kini tersenyum
Tamunya datang lagi
“Selamat datang di kota sejarah, kota budaya, dan kota religi,” sambut seorang di baliho
Kawan, kita sampai
12 mei
10 am
Lima ratus langkah lelah
Menjejal setapak mendamba 7,5 m telah
Hei lihat! Tinggal 50 langkah
Teruslah tatapi langit cerah,
Agar kau tak menyerah
Lima ratus langkah tabah
Sebentar lagi sayang, kita beristirah
Teruslah semangati kakimu yang kian lelah
Untukmu, batu panjang yang megah
Akan kucerita saat malam sedang cerah
Tentang kota megah sampai kau mati, pak gagah
Lalu bersiaplah jadi indah
Barus, 13 mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar