Laman

Kamis, 14 Juni 2012

Padamu


Sebuah surat kulayarkan padamu
Berharap sampai  di tanganmu yang kian layu
Kubuat  berbentuk kapal pesiar, agar kau  mampu menbaca hari
Tengah badai besar disini.

Kau tau, aku terlalu tua untuk mendayung sampan
Aku terlalu lemah untuk berteriak, “putar haluan”
Entah knapa,mungkin karna kau telah tenggelam dalam fikiran.

Dan laut ternyata terlalu lebar dari selembar peta
Terlalu besar dari bentangan atlas dunia
Terlalu panjang dari yang kita bayangkan dahulu
Dan ya. terlalu banyak bajak laut disini.
Hingga aku tak yakin, harus prcaya pada siapa.

Aku hanya mampu membuatnya dari kertas yang trpaksa aku ambil dari tong sampah
Bekas bungkusan lado kitiang agar kau tau betapa miskinnya kita hari ini.
Betapa laparnya anak kita setiap hari
Betapa  tangis cucu-cucumu membangukanku setiap malam
Betapa aku trlalu bingung dengan smua,
 dengan tangis, dengan jerit, dengan hempasan,  dengan laut, dan
dengan kau!


Aku rasa badai ini semakin gila
Tapi aku tak tau kemana kan jelang senja
Mata angin brputar sekenanya, tak jelas lagi arahnya.
                                                                                                                                       
Padang, Juni 2012

Kamis, 07 Juni 2012

KABAR ANGIN


Tiba-tiba kau berteriak di pertengahan juni
Dalam sunyi malam yang kian buram.
Hari keberapa ini?
adakah kau mengukur perjalanan detik?
kau tau,, kita seperti daun yang menunggu gugur.
lalu apa guna hujan?
jika rautmu kemarau sepanjang tahun, ucapmu

Lalu apa?
biarkan saja pelangi melele ke cangkirmu.

hei. menit kian tenggelam sayang.
kemana harus kulihat matahari terbit kini?
mungkinkah sudah bergeser ke utara?

lalu bagaimana?
tak ada yang peduli dengan detak bumi.
siapkan saja mantelmu,
bulan hujan segera datang.

Padang, Juni 2012

PADAMU



(1)
Assalamu’alaikum pak?
bgaimana kabar tmpat tidurmu?
Masihkah sekeras dulu?
sampai-sampai encok tak lupa menyapamu saat mentari memberi senyum.
hha. bukankah sudah kubeli yang baru.
Aku membatu dalam rumh kita, pak
adik terlalu bringas
hingga semua kulihat seperti kapal pecah
Tidak! Ini lebih dari hancur..
(2)
Aku tak bnar-benar merasa mentari selalu sama
hingga kau tersapu badai,
ku rasa hantaman hujan selalu memberi pembenaran.
Aku tak mengerti kemana kan ku cari bidadari,
kau bilang ia dibalik pelangi, kala hujan reda
tapi setiap hari aku hanya melihat bijinya dari pagi
(3)
Berapa kali harus kukatakan, pak?
aku tak menemukan sapunya..
seperti yang kau ucap dulu, selalu kau taruh dibalik pintu
Sungguh pak. Mungkinkah ia kau bawa mati?
atau-atau dicuri nenek sihir?
hari esok siapa yang tau pak.

bukankah dulu kau pernah bercerita di bawah temaram obor kala malam idul fitri,
nenek sihir manapun sangat menginginkan sapu kita.
tapi kemana ia sekarang?
tak ada jejak pada jalan pulang.
Aku ingin membersihkan kapal kita..
(4)
Malam ini aku minum kopi dan jagung bakar dibawah bulan
sungguh indah!
adakah maut semanis itu?
hingga kau enggan duduk bersamaku, sampai fajar menyapa
sekedar bercengkrama tentang Soekarno, atau proklamasi kita.
Atau bertingkah seperti daun.
seperti  daun yang menunggu layu.
                                                                                                                                                                Padang, Juni 2012