Laman

Senin, 26 Agustus 2013

MAIN-MAIN?

Kau tau? Tertawa bersama mu cukup membuatku gugup setengah hidup.
Stengah hidup?
Ya.. karena selama ini aku mati.
Hatiku mogok merasa, hingga ia hampir tuna cinta.
Jantungku koma, mungkin sebentar lagi alpa.
Lalu airmataku lelah mengalir, sepertinya ia ingin resign jadi tumbal lelaki.


Entah mengapa kau datang membawa pelangi.
Hingga aku jadi berwarna-warni.
Kadang merah, tak jarang jadi ungu
Mungkinkah kau adalah jawaban dari doa-doaku?
Atau hanya sebagai lalat yang numpang lewat.
Aku tak tau. Apa kau tau?
Yang jelas aku menikmati setiap jengkal langkah kita.


Berbincang denganmu memang membuatku mengawan
Tapi aku takut untuk jatuh terlalu tinggi dan rasai sakit yang lebih gila dari cinta ini.
Akh.. cinta.
Aku tak yakin akan rasa ini.
Kau bagaimana? Apa juga cintai manusia ini.
Aku kira kita sama.
Ah? Benarkah??


Ada saat dimana kau amat cemas akanku,
Dan tanpa sebab kau buat aku terpingkal karenanya.
Ouh.. bukan terpingkal, sayang.
Aku melompat girang, lalu berguling-guling pada taman bunga yang kulukis dalam bayang-bayang.
Tapi lagi-lagi aku takut melompat lebih tinggi. Karena aku takut lebih sakit lagi.


Atau saat kau amat perhatian.
Aku benar-benar melangit. Terbang bersama merpati.
Tapi aku tak punya sayap yang indah, sayang.
Akh… mimpiku terlalu imaji.
Atau kau sengaja membuatku ber-ingin.


Hmm…
Mungkinkah kau akan jadi manusia kesekian yang tertawa dalam tangisku yang sendu.
Mungkin? Tidak?
Tenang, cinta. Aku tak akan terlalu tinggi melangit
Tak akan terlalu indah bermimpi
Karena aku tak akan jauh berharap.
Tentu, karena kita main-main.
Ah apakah kita benar main-main?

BERLARI

Dulu, Betapapun kita berpisah dan kau menjauh,
aku masih menunggumu berbalik dan menebar bunga senyum untukku.
Ya...
Walau inginku terlalu mimpi, anganku tak lelah berdiri tegak di jalan ini.

Di sini kita bertemu
Dan di sini pula akhirnya kita berbagi punggung
menyedihkan ya?
Kau membuat cerita yang menurutku terlalu imaji.
"Kita berbeda!," ucapmu sebelum pergi.
Bukankah perbedaan itu yang membuat kita satu?
Kurasa kau hanya kehilangan akal untuk melucu.

Dan kini kau 'tlah bersamanya.
Apa kau mencariku dalam sosoknya?
yakinlah, aku tak 'kan pernah akan kau temukan pada siapa-siapa
Kau hanya lari.
Tentu hanya lari.
Tapi sayangnya pelarianmu berkenalan dengan nyaman.
Sedang aku di sini masih sendiri,
menunggumu sambil memperbaiki lampu jalan.
Agar kelak jika kau ingin kembali bisa dengan cepat temukan sosokku yang kian habis dimakan rindu.

Tapi, hari ini aku sadar.
Menunggumu sama saja bunuh diri.
Yaa...
Karena akulah yang sebenarnya pelarian, bukan dia.
Untukmu yang lama kurindu,
ktika kau ingin kembali jangan kaget saat tak kautemui aku di situ.
Karena aku 'tlah pergi,
pula sudah matikan lampu.

Minggu, 18 Agustus 2013

SAJAK DI HARI MERDEKA

Kawan..
Hari ini aku hanya akan merapat dan menatap pantai kita yang kian hitam.
Sambil menghisap lambat sebatang rokok yang dengannya aku berharap bisa mengelabui pandangan.
yap! kotoran laut di depan, berubah jadi berlian.
Cling!!

Akh… Bukan apa-apa,
Sudah kucoba seperti Balaputeradewa.
Menguasai Asia tenggara.
Tapi apa daya, layarku tak mampu terkembang bangga lebih lama.
Sepertinya ini buatan Cina, bukan Amerika.
Padahal sangat ingin kupamerkan karyaku pada dunia.
Sekalian menjaja, siapa tahu ada yang suka.
“Bu… beli bu…”
“Pak… beli pak..”
“Tiga seribu aja..”

Tapi, apa kau tau?
Ikan-ikan saja berpaling dariku.

Ukh, ia!
Aku lupa.
Negeri kita tak lagi sebesar dalam peta. (naf)

17 Agustus 2013