“Dari pukul 00 sampai 04 WIB telah terjadi 5 kali tawuran”. sebuah berita yang saya baca pada running text di Metro TV pagi ini, 21 Oktober 2012. Rupanya tawuran sudah menjadi trend dikalangan anak muda Indonesia dewasa ini. Benarkah?
Tawuran mungkin saja sudah ada sejak lama, tetapi akhir-akhir ini “budaya” jelek tersebut semakin marak disiarkan oleh media. Pertanda tawuran sudah menjadi suatu masalah krusial yang harus ditindak lanjuti lebih dalam. Moh Kusnanto di dalam blognya mnyebutkan bahwa ada banyak sekali factor yang menyebabkan terjadinya tawuran, diantaranya adalah rendahnya kualitas pribadi dan social serta buruknya kualitas pendidikan. Tapi menurut saya sendiri, tawuran kini terjadi tidak hanya karena alasan-mendasar seperti itu saja.
Mengapa? Kita lihat saja realitas hari ini, tawuran sepertinya terjadi secara berkesinambungan. Setelah terjadi disekolah ini, besoknya terjadi disekolah lain. Setelah kampus ini, kampus lain pun turut mencari lawan cakak banyak[1] berikutnya. Tawuran layaknya sepak bola mungkin, jadwal digilir walau tak tertulis. Jam segini, jadwal tawuran sekolah A lawan sekolah B, nanti setelah zuhur giliran kampus ini lawan kampus itu. Begitu seterusnya, sampai puncaknya pada berita di atas tadi. Atau mungkin saja sampai artikel ini diturunkan, tawuran-tawuran lain terus mewarnai negeri ini.
Walaupun akibat yang dihasilkan juga tidak tanggung-tanggung, sekali tawuran seorang dua orang meninggal karenanya. Tetapi tawuran tetap saja berlanjut. Sebenarnya apa yang menjadi kepuasan suatu kelompok melakukan tawuran di Indonesia ini?
Di dalam teori Frustasi – Agresi adalah usaha seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan mengalami hambatan. Kondisi ini akan menimbulkan dorongan untuk bertindak agresif yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku untuk melukai seseorang atau merusak objek yang menyebabkan frustasi. Bisa jadi, tawuran dilakukan untuk mnghadapi hambatan-hambatan atau perilaku-perilaku yang membuat tujuan suatu kepentingan tidak tercapai. Namun ada keanehan disini, jika hanya itu mungkinkah ini terjadi secara berkelanjutan?
Teori berikutnya yang saya baca adalah Teori Kekerasan Kolektif. tujuan tawuran disini dijelaksan adalah untuk menunjukan kelompok pelajar mana yang lebih kuat dan patut ditakut. Jika begitu, mungkin saja kedepannya, kekuatan suatu kampus atau sekolah akan dilihat dari menang atau tidaknya ia dalam tawuran.
Miris. Satu kata yang bisa saya ucapkan kemudian. Bagaimana tidak, dengan fenomena yang terjadi, kita bisa lihat tawuran terjadi setiap hari. Hampir di semua daerah bagian Indonesia. Isi Pembukaan Undang-undang untuk mencrdaskan khidupan bangsa telah gagal, stidaknya dibidang emosional dan akhlak masyarakat Indonesia. Mungkinkah ini akan merembet pada masalah lain? Tak bisa disangkal, masalah ini bisa saja akan mejalar pada keadaan lain. Jadi mari berfikir, tawuran kini masih menjadi salah satu jalan untuk menunjukkan eksistensi kekuatan atau sudah menjadi kebutuhan untuk menunjukkan kekuatan itu sendiri?
Satu kekhawatiran kemudian muncul. Mungkinkah kita sudah lupa dengan Sumpah Pemuda? Dengan janji satu banga yang dibuat lalu dikoar-koarkan Muhammad Yamin dan kawan-kawan. Lalu apa hubungannya tawuran dengan sumpah pemuda? Yap. Tentu saja ada, jika kita sudah merasa bersaudara, masih mungkinkah kekerasan itu dilakukan. Logika saja, saudara tidak akan melukai saudaranya. Bahkan kalau bisa akan dilindungi dengan jiwa dan raga. Benar bukan?
Lalu apa solusinya. kalau menurut saya sendiri, Selain kembali menjadikan Sumpah Pemuda sebagai landasan hidup, timbulkan rasa cemburu yang positif. Salah satunya dengan menunjukkan kekuatan kita dibidang lain seperti membuat prestasi sekolah sendiri. Toh tawuran hanya akan menimbulkan kerugian-kerugian saja. Mngapa harus pilih yang buruk jika ada yang lebih baik. (naf)
ARTIKEL (21Oktoer 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar