Laman

Sabtu, 27 Oktober 2012

ELEGI SUMPAH PEMUDA



Meraba pendar hujan dari balik jendela hari ini.
Bayangmu lagi-lagi menari di deretan rintik yang kian ringsut
menjadi perfait-perfait, seperti yang kau selipkan dalam buku sejarahku.
Menyimpan rindu pada sang pemimpi.
Mungkinkah ia kau tulis saat rintik sedang bergelayut didahan. Atau terperangkap diatas genteng?

Ah. Kau tau, ia kini duduk manis diantara buku filsafat dan ekonomi
Menunggu antrian ke sepuluh ribu untuk ku jenguki lagi.
Walau dulu.
selalu tersenyum renyah, sampai lengkungnya tak layak kunamai sumpah.
Semacam diary, mungkin..
Yang selalu asik diselami bersama coklat panas.
Bahkan jika Comte selalu mengajakku berdiskusi, kau tak habis akal merayu.

Terkadang kusesalkan jua hari itu ada.
Mengapa tak kau gunakan saja tintamu untuk tulis biografi.
Atau sejarah Yamin jadi pahlawan.
Karena hari ini sumpahmu ditinggalkan
Terlalu lamban dari jalan siput
Terlalu layu dari lembayung.


Tapi. Hari ini, ingin kujenguki kau kali pertama.
Pertanda hormat padamu, Yamin.
Kubuka lagi ranummu tahun 28.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Padang, 28 Okt 2012

Tidak ada komentar: