Laman

Selasa, 09 Oktober 2012

PAGI YANG SIBUK, SEPRTI HARI INI


Kau tau, setiap pagi semua sibuk sedari tadi.
Ya. Sangat sibuk!
Seperti hari ini, kulihat fajar berlari menjemput pagi
Ia sampai lupa sarapan dan memakai kaus kaki.
Padahal aku amat hapal, ia tak pernah keluar dengan mata kaki kelihatan
Tapi, aku tak akan seperti fajar
Karena telah kusiapkan  pagimu di meja hatiku, sedari malam.

Pula kupandangi  embun sedang dikejar cemas.
Getar-getir diseduhnya malam yang tinggal sepenggal
Sedang daun geleng-geleng kepala dan terus saja menyeruput sisa-sisa angin malam
Tapi kau harus tahu, tak akan kubiarkan kau haus setiap hari.
Telah kusewa hujan dari pukul  5, agar kau bisa menyeduhnya dan mbuat pelangi untuk kita santap bersama.

Pun, kemudian kulihat induk ayam tengah membangunkan anaknya.
“bagun nak, kau harus belajar seprti bapak”
“lihat-lihat.. bapakmu akan bekerja”, sambungnya bangga.
Sedang sianak terus saja melanjutkan mimpinya.
Haruskah aku begitu sayang,?
 agar kau tak tertidur lagi setelah kupanggil dengan kata-kata manis.

Oh. bahkan, kudengar Beo  tetangga tengah berlatih vocal.
Ia sibuk menghapal draft yang di kasih majikannya
Terkadang ia dipukuli dan di teriak-teriaki karna tak hapal.
Yakinlah, kau tak perlu bersusah payah merapal kata cinta,
Karena aku sudah tau.

Dulu.

aku selalu senang mengintipimu dari balik dinding kamar yang bolong  itu, setiap pagi
Kau selalu sibuk menulis.
Apakah pagi ini kau juga begitu?
Sibuk menggores masa lalu kita?
Tapi kau tak pernah tau bukan, aku turut sibuk menulis disini. puisi untukmu, setiap pagi
Seperti hari ini.


10 Oktober 2012



Tidak ada komentar: