Kau tau, setiap pagi semua sibuk sedari tadi.
Ya. Sangat sibuk!
Seperti hari ini, kulihat fajar berlari menjemput pagi
Ia sampai lupa sarapan dan memakai kaus kaki.
Padahal aku amat hapal, ia tak pernah keluar dengan mata
kaki kelihatan
Tapi, aku tak akan seperti fajar
Karena telah kusiapkan
pagimu di meja hatiku, sedari malam.
Pula kupandangi embun
sedang dikejar cemas.
Getar-getir diseduhnya malam yang tinggal sepenggal
Sedang daun geleng-geleng kepala dan terus saja menyeruput
sisa-sisa angin malam
Tapi kau harus tahu, tak akan kubiarkan kau haus setiap
hari.
Telah kusewa hujan dari pukul 5, agar kau bisa menyeduhnya dan mbuat
pelangi untuk kita santap bersama.
Pun, kemudian kulihat induk ayam tengah membangunkan
anaknya.
“bagun nak, kau harus belajar seprti bapak”
“lihat-lihat.. bapakmu akan bekerja”, sambungnya bangga.
Sedang sianak terus saja melanjutkan mimpinya.
Haruskah aku begitu sayang,?
agar kau tak tertidur
lagi setelah kupanggil dengan kata-kata manis.
Oh. bahkan, kudengar Beo tetangga tengah berlatih vocal.
Ia sibuk menghapal draft yang di kasih majikannya
Terkadang ia dipukuli dan di teriak-teriaki karna tak hapal.
Yakinlah, kau tak perlu bersusah payah merapal kata
cinta,
Karena aku sudah tau.
Dulu.
aku selalu senang mengintipimu dari balik dinding kamar yang
bolong itu, setiap pagi
Kau selalu sibuk menulis.
Apakah pagi ini kau juga begitu?
Sibuk menggores masa lalu kita?
Tapi kau tak pernah tau bukan, aku turut sibuk menulis
disini. puisi untukmu, setiap pagi
Seperti hari ini.
10 Oktober 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar