“Ukirkan dalam hati kapten masa depan! Lebih tangguh dari pada yang kita duga. Daripada terbawa hati yang gelisah. cobalah tuk menangis saja. Demi meraih masa depan terlihat, tak perlu ragu jadilah diri yang baru. Bukan demi tuk siapapun juga, cukup mencoba untuk jadi lebih hebat” sebuah lirik lagu yang gue dengan hari ini dari mesin penympan data temuan Charles babbage. Yap! Ini lirik dari Soundtrack film kartun Captain Tsubasa! Lirik yang kasi kita semangat berlipat-lipat dulu. Dari sini, gue jadi mikir knapa lagu-lagu keg gini ga lagi membahana dikalangan anak-anak umuran 7- 10 tahun. Anak-anak sekarang lebih kenal lagu Iwak Peyek.
Ya. Sebuah realita yang miris jika kita sadari kini. Dulu, hari minggu emang benar-benar jadi hari berlibur. (setidaknya buat gue. XD) setiap minggu pagi kita akan duduk manis didepan tv menunggu film-film kartun yang akan ditayangkan, mulai dari chibi maruko chan pada pukul 7 pagi hingga brakhir dengan cardcaptor sakura pukul 11 di RCTI lalu channel ditukar ke SCTV ada Pokemon kemudian pindah ke Indosiar ada Power Ranger nunggu. Sepertinya acara-acara kartun keag gini sudah hilang dari perderan. Walaupun gak benar-benar ilang. Yap! Film-film ini masih bisa kita temuin di Space Toon. Tapi, ini adil ga sih? Ngeliat Indonesia yang udah ramai sama orang-orang miskin. Sedang kita tahu, space toon cuman ada di TV kabel, yang notabene mahal banget harga penyewannya (walaupun skarang enggak). gimana dengan anak-anak lain? Mereka terpaksa nikmatin acara-acara yang ditayangkan hari ini. Acara musik pagi-pagi, misalnya. Parahnya, hari minggu acara music ini juga ditayangin!! Tanpa mereka sadarin sangat tidak mendidik. Lalu apa gunanya film-film kartun kita dulu?
Di dalam pskilogi perkembangan, dijelaskan bahwa perkembangan masa kecil akan mempengaruhi perkebangan berikutnya. Nah dari sini, gue mikir lagi, film-film kartun yang disiarkan pada tahun 199an sampai 2000an itu memberikan pendidkan yang amat penting ternyata. Gimana enggak, di dalamnya kita belajar bagaimana bersahabat, seperti kartun Hamtaro. Belajar berjuang, seperti kartun Captain Tsubasa, atau bahkan patuh pada orang tua, seperti kartun chibi maruko chan. Sebuah pendidikan, yang gak prnah kita sadari sebelumnya (yang setuju ngacung). Yap, bagaimana orang-orang seperti Ippho Santosa, atau Saptuari Sugiharto lahir jadi pribadi yang kreatif. Gue yakin mereka dulu juga nonton film kartun sperti ini sampai jadiin mereka mampu memutar otak untuk hidup yang lebih indah. Mungkin ini cuman pendapat subjektif gue. Tapi gue juga yakin banget manusia-manusia yang sempat nikmatin kartun-kartun berkualitas keag gitu bakalan ngangguk-ngangguk. Kenapa gue bilang berkualitas, karena emank ngedidik kita banget. Dari lirik soundtracknya ajah udah ngajarin kehidupan. Bener gak?
Nah, seperti yang udah dijelasin diatas tadi, hari ini lagu-lagu keag gitu sangat asing ditelinga merka. Masa coba, mereka lebih tau lagu Trio macan, atau ZIfilia. Bukan mau ngejlek-jelekinin, tapi apa pantas ini jadi konsumsi anak-anak Indonesia kebanyakan yang tidak memiliki tv kabel? Cuman bisa nikmatin channel nasional seperti RCTI, INDOSIAR, SCTV, MNC TV, atau ANTV. Memang benar. Masih ada doraemon dan crayon sinchan setiap minggu pagi dan film-film kartun lain yang ditayangkan diwaktu berbeda. Tapi menurut gue itu aja gak cukup. Bagaimana dulu, acara hari minggu itu dirancang memang untuk anak-anak. Bisa dibilang, hakikat Minggu sebagai hari libur benar-benar direalisasikan waktu itu. Namun apa realita hari ini, setelah doraemon langsung disambut dengan acara music alay yang selalu mereka lihat selama 6 hari sebelumnya. Membuyarkan cerita anak-anak yang dikemas apik dalam sebuah kartun. Pantas saja mereka lebih menyukai game online. Karena acara TV sangat membosankan. Walaupun sebenarnya, gue yakin televisi diciptakan dulunya untuk menyampaikan informasi berarti. Nah sekarang, siapa yang salah?
Renungan ini setidaknya buat kita mikir. Alangkah kasiannya adek-adek kita hari ini. gimana kehidupan mereka nanti jika film-film berkualitas seperti dulu diganti dengan acara music yang ga ngdidik, selain semangat lalala yeyeye nya. Juga sinetron-sinetron yang ada. Dulu kita kenal Keluarga Cemara yang juga berkualitas. Miris bget pas tau adek gue yang umuran 7 tahun suka sintron putih abu-abu. Pas gue nanya sama mama, kenapa ga ada kartun-kartun itu lagi. Mama cuman jawab, sewa filmnya mahal. Kita udah jadi Negara miskin. Nah dari sini juga, gue mikir lagi, sewa kartun Doremon dan Sinchan juga mahal. Kenapa masih ada? Bahkan gue amat yakin bahwa harga sewa kartun Doraemon lebih mahal dari Captain Tsubasa. Kenapa masih ada? Mungkin memang benar kita kini adalah Negara yang miskin, tapi apa dengan kemiskinan ini kita harus pasrah dengan keadaan? Alhasil adek-adek kita Terpaksa menikmati dan keterusan candu dengan acara seperti sekarang. Mungkin saja nanti ga akan ada Ipho santosa atau Saptuari ke 2, ke 3, dan seterusnya? Spertinya isi pembukaan UUD 1945, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini sengaja dikaburkan. pendidikan kita dirancang sedemikian rupa menjadi habis sehabis-habisnya. Proses pembelajaran dirancang hanya dari sekolahan. Dan sekolahan pun skarang dibuat sulit sesulit-sulitnya. Uang sekolah makin mahal, harga-harga buku juga mahal, pendidikan menjadi sesuatu yang eksklusif. Secara ga sadar, ini dulu pernah terjadi pada zaman Kolonial. Ketika masyarakat pribumi hanya boleh blajar dalam sekolah rendah. Dan sekolah tinggi hanya boleh dinikmatin oleh orang-orang yang berada. Bahakan skarang lebih parah bukan? Kita dibuat mnikmati pencerdasan yang semu.
Lalu bagaimana sekarang cara untuk menyelamatkan hidup bangsa yang udah ditepi jurang ini? Menurut gue cuman dua, prtama. Buat atau hidupkan lagi kartun mendidik hasil karya kita. Jika benar tak bisa merubah system yang sudah bengkok ini, Toh, kita mempunyai orang-orang hebat dibidang ini. Ceritakan dengan kearifan lokal yang kita punya, karena tanpa disadarin cerita-cerita seperti sangkuring atau malin kundang gak kalah dengan cerita captain Tsubasa, atau Chibi maruko chan. Atau kedua, Kita bisa menceritakan kembali cerita-crita seperti Captain Tsubasa sebelum mereka tidur. Jadikan sbgai penghantar mereka tidur. Bhkan tak hanya itu, kita bisa menceritakan cerita-cerita ibu kita dulu.
Nah, skarang jalan Indonesia kita yang pegang kawan-kawan. Apa mau, hanya brnostalgia dengan kartun-kartun lama, tanpa sadar adek-adek kita udah diprbodoh dan kita kembali dituntun jadi bangsa terjajah. Membiarkan sjarah itu berulang lagi. Semua tergantug kita. (naf)
ARTIKL (20 April 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar