Laman

Senin, 27 Mei 2013

cerita duapupuhdua

Dua puluh dua kali, kau kalah!, teriakku seru menadah tangan padanya di senja yang kian merah.
Saat itu, tengah bergulir kelereng berwarna putih susu diatas tanah yang kini berubah gedung-gedung beratap cerah.
Belum seratus kali, lenguhnya…
Ayo main lagi!
Tapi azan menghentikan debat kami yang lebih seru dari MPR saat ini.
Nakkkkkkkkkkkk… pulang, perintah ibu dari balik papan bertulis merdeka atau mati.
Lalu gemerncing kelereng menemani langkah riangku yang memenuhi tas bolongku. tentu.
Cing.. cing..

Waktu itu masih banyak pohon besar disini, kita bermain disana bukan.
Tunjukku pada gedung megah bertulis Bank BRI
Dan kau hanya mengangguk setuju.
Hei.. dua puluh dua tahun, kau kemana?
Mencoba perbaiki gambar Sulawesi yang kau tertawai dulu, jawabmu
Lalu?
Masih seperti dulu, rupanya aku tak pernah bisa menjadikannya indah, seperti inginmu
Wajah itu terlipat, sendu

akh..
Kau tak pernah tau, sejak kau datang hari itu
Telah kau lukis Indonesia itu lebih baik dari gambarmu
Di dalam hatimu
Aku lihat itu.
Jelasku,
hanya dalam hati.

Hei, Ayo main lagi, ajaknya sambil mengangkat dua puluh dua kelereng…
Tiba-tiba.

Padang, 27 Mei 2013

Tidak ada komentar: