Laman
Rabu, 28 November 2012
FISIKA HATIKU
-menuju kematian-
*Sepertinya, Badai Serotonin itu kini menari indah dalam kepalaku.
Membuat fluktuasi emosi berwarna-warni seperti pelangi
Ahh.. Atraktor rindu yang kau lukis melambai bagai angin musim dingin.
Mencipta sinyal-sinyal nonlokalku kian dibawa awan
Hingga semua seperti suara kresek-kresek radio yang kehilangan satelit
Atau garis-garis statis televisi kala bulan ucap selamat malam pada pujangga?.
Hilang
*Kau tau, kau amat mampu memaku otakku untuk 29 frame potret lakumu
29? Yaaa.. sebenarnya 30.
Namun satunya tlah kau buang, karna kau ucap terlalu abu-abu
Padahal hari itu senja bagitu jingga. Bagaimana bisa abu-abu?
*Dan aku jadi seperti Ombak Soliton di tengah laut pasifik
Berselimut Katrina di tengahnya
Hingga pandanganku menjadi kabut
menuju Bifurkasi kepingan-kepingan masalalu kita.
Ini labirin apa? Teriakku
Kemana kau ajak aku berlari, lagi?
*oh. kau tak pernah tau bukan,
Bagaimana hatiku kau buat jadi Fraktal-Fraktal aneh tak beraturan?
Mungkin seperti puzzle lego yang selalu kita mainkan
Celakanya, kini aku tak mampu lagi menyusun Fragmen yang berserak ini
Walau dulu, aku selalu mampu kalahkan engkau
Bermain
Dan nyatanya, benar saja. ini bukan lagi lego keberuntunganku!
Kau menang sayang, untuk kali ini.
*andai, di otakku ada tombol delete,
Mungkin sudah aku tekan saja ia, detik ini.
Biar hilang semua. Biar aku jadi orang gila
Tapi sayang, kepalaku adalah mesin penyimpan waktu
Sungguh, kau seperti Alkaline hingga tak mudah aku lepas padam
Bahkan dalam kematianku
Kematian hidupku, tanpamu
Padang, 28 november 2012 (naf)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar