Laman

Minggu, 18 November 2012

DARI DISKUSI JADI AKSI


Lahirnya Undang-undang Normalisasi Kehidupan Kampus atau Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) pada saat itu untuk membungkam mahasiswa agar tak lagi brplitik dan bersuara protes pada tahun 1978, agaknya tidak membungkam mahasiswa UGM. Walaupun sejak itu, tepatnya setelah aksi mahasiswa memprotes Taman Mini Indonesia Indah, pristiwa Malari, dan aksi mahasiswa Institut Teknologi Bandung menolak kdatangan Rudini sebagai Mentri Dalam Negri pada saat itu tidak ada lagi mahasiswa yang berkiprah dalam memprotes pemerintah. Salah satunya, cara anak-anak UGM adalah dengan memunculkan kelompok-kelompok study mahasiswa. Di dalam teorinya, ini merupaka tahapan gerakan mahasiswa menurut Sartono Kartodirdjo. Tahapan ini adalah yang pertama. Disebut Long Range.
Pada tahap kedua adalah tahap pre condition. Ditandai dengan munculnya kelompok diskusi dan study mahasiswa sebagai alternative aksi karena organisasi mahasiswa saat itu mulai sulit bergrak berperan, sebagai jalan masuknya teori-teori kritis seperti “ teori marxisme” . teori-teori kiri ini mulai digandrungi pemuda-pemuda saat itu karena salah satu penyebabnya, adalah teori-teori seperti itu dilarang di negri ini. Di UGM sendiri klompok-kelompok study ini amat banyak. Diantara yang trkenal adalah, kelopok study Cemara Tujuh, Dasakung, Teknosufi, dan kelompok stdy Palagan. Seperti yang sudah dijelaskan, kelompok-keompok study ini adalah tmpat persemaian teori-teori kiri yang walau dalam perkembangannya, buku-buku kiri ini dibredel namun para mahasiswa ini mampu mndapatkannya dalam bntuk fotocopyan. Bacaan kritis yang paling sering dibaca saat itu adalah seperti, “Tori Ketergantungan” dari Andre Gunder Frank. Maka tak heran, jika tonggak revolusi Indonesia, ada pada study-study mahasiswa.
Jika dilihat lebih teoristis, menurut Rudi Gunawan dan kawan-kawan, study mahasiswa ini adalah salah satu wadah perlawanan yang ada di Indonesia awal tahun 1990an. Stdy mahasiswa ini merupakan model ketiga yang merupakan diajdikan basis mahasiswa selain organisasi komite dan organisasi kerakyatan progresif. Organisasi komite lahir brsifat non permanen. Dalam artian organisasi ini ada karena momentum politik untuk merspon isu-isu tertentu. Kelebihan organisasi ini adalah kcepatannya dalam merespon momentum dan memobilisasi massa. Sedang yang kedua, organisasi mahasiswa progresif kerakyatan namanya, atau lebih dikenal dengan sebutan organisasi organisasi mahasiswa (ormas). Kemunculan ormas-ormas ini lebih disebabkan olh kritik dari kemandulan organ mahasiswa formal yang diakui pemerintah seperti, Himpunan mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonsia (GMKI). Kemunculan Front Aliansi Mahasiswa Indonesia (FAMI), Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera), Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Deemokrasi (SMID), dan organisasi prlawanan extra kampus lainnya menjadi contoh dari kritisasi mahasiswa tahun 1990an, hal ini disebabkan di dalam ormas ini proses ideology terinternalisasi secara sistematis, terpogram, dan dapat dilacak.

Walaupun begitu, dapat kita sepakati bahwa dalam kasus ini aksi-aksi besar yang terjadi berawal dari pembahasan bacaan-bacaan pemikiran-pmikran hebat di dalam diskusi.

Akan tetapi, perlu kiranya kita mengetahui apa yang mnyebabkan mahasiswa di Indonsia saat itu berani bertindak brutal dalam menyampaikan aspirasinya. Karena dapat dipastikan setiap aksi yang terjadi tidak prnah ada tanpa ada satu atau beberapa penyulut apinya. Dalam hal ini, Rudy dan kawan-kawan memberikan 5 deskripsi besar yang bisa dipakai untuk melihat penyulut api rformasi ini . Pertama adalah Pendulum Global Bergerak ke Kanan. Situasi global yang terjadi saat itu, adalah jatuhnya Tirani di Uni Soviet aan menyebabkan kehancuran semangat kemanusiaan. Hal ini digambarkan Noem Chomsky dengan tragis seiring dengan rasa frustasi pada kehancuran Sosialisme-Stalinisme yang menjadikan rzim Partai Komunis Cina menanggapi demonstrasi dengan militer. Seperti yang dikatakan Goenawan Muhammad, “Kekuasaan Komunis mati, tanpa perlu mencekiknya”.

Kedua, Tekanan Dunia Internasional. Kterikatan Orba dengan dunia kapitalisme Internasional ditandai dengan dibentuknya politik kebijakan Generelized System of Preference (GSP). Melalui ini, pemerintah AS akan dengan sangat mudah untuk emngkritik Indonesia. Maka dari itu, Indonesia harus mempertimbangkan politik AS ini jika tak ingin devisa yang besar aka hilang.

Ketiga, Retaknya Pendukung Orba. Hal ini bisa kita lihat dari perpecahan-perpecahan dan fraksionalisasi yang terjadi sehingga pemerintahan Orba menjadi terbelah menjadi ICMI dan lain-lain.

Keempat, adalah merebanknya Aksi massa. Tercatat pada tahun 1985 trjadi 78 pemogokan Buruh, tahun 1986 terjadi 73 Pemogokan, 1987 terjadi 37 pemogokan, 1988 trjadi 38 Pemogokan, 1989 terjadi 17 pemogokan, 1990 trjadi 61 pemogokan, 1991 trjadi 100 pemogokan, 1992 terjadi 251 pemogokan, 1993 terjadi 300 pemogokan, pan puncaknya tahun 1994 terjadi hampir mencapai 1.030 pemogokan di seluruh Indonesia.

Kelima, Hilangnya Tabu Teori “Kiri”. Sesuai dengan yng disampaikan diatas tadi ergrakan mahasiswa di Indonesia yang radikal saat itu dimulai dengan diskusi-diskusi mengenai bacaan kiri juga dipengaruhi oleh gerakan mahasiswa kiri di Filipina dan Korea.

Kembali kepada topic. Di dalam buku Menyulut Lahan Kering Perlawanan, gerakan mahasiswa tahun 1990an Rudy Gunawan dan kawan-kawan mengatakan, “Mahasiswa yang aktif dalam gerakan mahasiswa hanyalah minoritas di dalam kelas sosialnya”. Hal ini sangat menggambarkan bahwasanya gerakan mahasiswa yang terjadi saat itu dimulai dengan kelompok-kelompok minoritas. Karena sebagaian besar kalangan asih menganggap gerakan mahasiswa moral yang menilai mahasiswa tidak memiliki kepentingan dalam politik. Contoh yang bisa diambil yaitu pada tahun 1985 dihari sumpah pemuda, belasan mahasiswa UGM berkumpul meingkar di halaman gedung pusat UGM untuk melakukan orasi, membaca puisi dan lain-lain merupan aksi pertama yang dilakukan mahasiswa UGM stlah dibuatnya kebijakan pembungkam suara mahasiswa tersbut dan kemudian pada tahun 1987 sebuah insiden terjadi di kelas logika. Membuat para mahasiswa membuat biro Pembelaan Hak Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM. Biro ini bertujuan untuk melindungi hak-hak mahasiswa dalam berkuliah, yang kemudian dilanjutkan dengan bermacam-macam aksi besar berikutnya. Salah satu yang harus diingat adalah aksi jalan kaki 70 mahasiswa filsafat menju gedung DPD setelah memperingati hari sumpah pemuda di kampus UGM pada tahun 1987. Ini menjadi demonstari prtama yang dilakukan.

Sebelumnya terjadi aksi yang lebih besar dari yang diatas, dimulailah dengan pembentukan apa yang disebut dengan Pre Ciptian, yang dalam hal ini brbentuk pembuatan propaganda-propaganda dan konsolidasi dari organisasi lokal sampai nasional. Untuk lokal, dimulai oleh Andi Munjat di Yogyakarta yang membentuk SMY (Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta) sebagai kiprah pertamanya yang dapat dipastikan bahwa SMY menjadi poros terhadap gerakan progresif kerakyatan di berbagai kota yang menjadi cikal bakal lahirnya Solidaritas Mahasiswa Indonesia Demokrasi. Kemudian pada tahun 1990 mulailah muncul gerakan radikaldi Jakarta melalui konsolidasi majalah Progres seperti FSUI, FBB dan KSH yang membahas aksi-aksi buruh. Di daerah solo, keterlibatan unsure-unsur progresif masuk kedalam intern prs kampus seperti UNS yang kemudian diikuti dengan pembentukan Ikatan Mahasiswa Surakarta (IMS) pada tahun yang sama sebagai ikon aksi-aksi besar di Solo. Di semarang, konsolidasi terjadi akibat rpresi terhadap golongan putih tahun 1992 dan terbitan kampus yang digunakan saat itu adalah Hayam Wuruk yang menjadi perantara dengan kampus lain. Sedang IKIP, PGRI, dan SMS menggunakan pers mahasiswa Vokal. Lalu proses konsolidasi awal di Surabaya dilakukan di kampus Unnair dengan pembentukan Solidaritas Mahasiswa Surabaya (SMSB). Pada tahun 1993, KMB dibentuk sebagai kelompok study mentari. Kelompok ini kemudian membentuk Komite Mahasiswa Uiversitas Airlangga (KMUA) sebagai bentuk transformasi kelompok intelektual ke radikalisme. Sampai akhirnya, pertemuan nasional pertama dilakukan sebagai bentuk pengumpulan organisasi lokal pada bulan Nopember 1992 di Cisarua, Bogor. Di dalam pertemuan dibentuknya presidium Solidaritas Mahasiswa untuk Dmokrasi Indonesia (SMDI) dengan konsolidasi pentingnya adalah menolak penggusuran tanah petani di Jawa Timur. Kemudian pada prtemuan selanjutnya ditetapkan prubahan nama dari SMDI jadi SMID. Dengan propaganda-propaganda penghancuran Sektarianisme.di dalam hal ini pran pers mahasiswa digunakan untuk konsolidasi dan propaganda.

Klimaks dari tahapan ini adalah yang disebut dengan Event, yang dalam hal ini ditandai dengan apa yang disebut Reformasi terjadi gerakan mahasiswa pada mei 1998 dari Yogyakarta dengan isu :
1.Turunkan Suharto
2.Cabut Lima Paket UU Politik dan Dwifungsi ABRI
Hingga akibat yang terjadi adalah munculnya zaman reformasi di Indoneisa.

Sumber : Gunawan, FX Rudy. Dkk,2009.MENYULUT LAHAN KERING PERLAWANAN : Gerakan Mahasiswa 1990an, Tribute To Andi Munajat. Jakarta : Penerbit Spasi dan HVR Book

Tidak ada komentar: