Laman

Kamis, 07 Juni 2012

PADAMU



(1)
Assalamu’alaikum pak?
bgaimana kabar tmpat tidurmu?
Masihkah sekeras dulu?
sampai-sampai encok tak lupa menyapamu saat mentari memberi senyum.
hha. bukankah sudah kubeli yang baru.
Aku membatu dalam rumh kita, pak
adik terlalu bringas
hingga semua kulihat seperti kapal pecah
Tidak! Ini lebih dari hancur..
(2)
Aku tak bnar-benar merasa mentari selalu sama
hingga kau tersapu badai,
ku rasa hantaman hujan selalu memberi pembenaran.
Aku tak mengerti kemana kan ku cari bidadari,
kau bilang ia dibalik pelangi, kala hujan reda
tapi setiap hari aku hanya melihat bijinya dari pagi
(3)
Berapa kali harus kukatakan, pak?
aku tak menemukan sapunya..
seperti yang kau ucap dulu, selalu kau taruh dibalik pintu
Sungguh pak. Mungkinkah ia kau bawa mati?
atau-atau dicuri nenek sihir?
hari esok siapa yang tau pak.

bukankah dulu kau pernah bercerita di bawah temaram obor kala malam idul fitri,
nenek sihir manapun sangat menginginkan sapu kita.
tapi kemana ia sekarang?
tak ada jejak pada jalan pulang.
Aku ingin membersihkan kapal kita..
(4)
Malam ini aku minum kopi dan jagung bakar dibawah bulan
sungguh indah!
adakah maut semanis itu?
hingga kau enggan duduk bersamaku, sampai fajar menyapa
sekedar bercengkrama tentang Soekarno, atau proklamasi kita.
Atau bertingkah seperti daun.
seperti  daun yang menunggu layu.
                                                                                                                                                                Padang, Juni 2012

Tidak ada komentar: