dan mentari ini terbit kembali
apa kau tak melihatnya?
tidakkah kau rasa cahayanya,
tengah rabai tubuhmu yang gigil kedinginan
ia tengah tersenyum manja,
bersiap halau hujan yang terlalu deras hingga tak sempat kau seka.
dan mungkin akan segera badai disana
didalam matamu yang kian tua.
hei, tidakkah kau sadari cecapannya.
bahkan saat dicumbuinya dedaunanmu yang layu, amat mesra?
hingga lagi, kau punya nyawa.
hayolah,
kau tentu tak ingin ia redup lagi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar