Laman

Rabu, 28 November 2012

HANYA KAU

kau tau...
terkadang, ingin kugambari engkau seperti baja hitam..
tapi.. baja hitam mana yang punya mata lebih canggih dari lensa LSR?
kau tau kan, matanya seperti lebah yang mati.


bahkan ingin kulukis pula engkau seperti peri
tapi peri tak ada yang berwajah lucu!
ibu bilang, peri itu cantik. bukan lucu


sesekali, aku jahil samakan engkau dengan TOM
namun, TOM hanya dikerjai JERRY.
sedang kau, teman-temanmu lebih jahil dari JERRY.
sungguh, aku jadi geli saat kubongkar lagi, gudang kenang itu.

ahh.. sahabat mana yang mau temani sahabatnya beli indomie.
kurasa cuma engkau..
lalu pahlawan mana yang sekonyong-sekonyongnya masuk bak mandi dan cemas setengah mati..

hanya kau

FISIKA HATIKU


-menuju kematian-

*Sepertinya, Badai Serotonin itu kini menari indah dalam kepalaku.
Membuat fluktuasi emosi berwarna-warni seperti pelangi
Ahh.. Atraktor rindu yang kau lukis melambai bagai angin musim dingin.
Mencipta sinyal-sinyal nonlokalku kian dibawa awan
Hingga semua seperti suara kresek-kresek radio yang kehilangan satelit
Atau garis-garis statis televisi kala bulan ucap selamat malam pada pujangga?.
Hilang

*Kau tau, kau amat mampu memaku otakku untuk 29 frame potret lakumu
29? Yaaa.. sebenarnya 30.
Namun satunya tlah kau buang, karna kau ucap terlalu abu-abu
Padahal hari itu senja bagitu jingga. Bagaimana bisa abu-abu?



*Dan aku jadi seperti Ombak Soliton di tengah laut pasifik
Berselimut Katrina di tengahnya
Hingga pandanganku menjadi kabut
menuju Bifurkasi kepingan-kepingan masalalu kita.
Ini labirin apa? Teriakku
Kemana kau ajak aku berlari, lagi?



*oh. kau tak pernah tau bukan,
Bagaimana hatiku kau buat jadi Fraktal-Fraktal aneh tak beraturan?
Mungkin seperti puzzle lego yang selalu kita mainkan
Celakanya, kini aku tak mampu lagi menyusun Fragmen yang berserak ini
Walau dulu, aku selalu mampu kalahkan engkau
Bermain
Dan nyatanya, benar saja. ini bukan lagi lego keberuntunganku!
Kau menang sayang, untuk kali ini.


*andai, di otakku ada tombol delete,
Mungkin sudah aku tekan saja ia, detik ini.
Biar hilang semua. Biar aku jadi orang gila
Tapi sayang, kepalaku adalah mesin penyimpan waktu
Sungguh, kau seperti Alkaline hingga tak mudah aku lepas padam
Bahkan dalam kematianku
Kematian hidupku, tanpamu

Padang, 28 november 2012 (naf)

Minggu, 18 November 2012

DARI DISKUSI JADI AKSI


Lahirnya Undang-undang Normalisasi Kehidupan Kampus atau Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) pada saat itu untuk membungkam mahasiswa agar tak lagi brplitik dan bersuara protes pada tahun 1978, agaknya tidak membungkam mahasiswa UGM. Walaupun sejak itu, tepatnya setelah aksi mahasiswa memprotes Taman Mini Indonesia Indah, pristiwa Malari, dan aksi mahasiswa Institut Teknologi Bandung menolak kdatangan Rudini sebagai Mentri Dalam Negri pada saat itu tidak ada lagi mahasiswa yang berkiprah dalam memprotes pemerintah. Salah satunya, cara anak-anak UGM adalah dengan memunculkan kelompok-kelompok study mahasiswa. Di dalam teorinya, ini merupaka tahapan gerakan mahasiswa menurut Sartono Kartodirdjo. Tahapan ini adalah yang pertama. Disebut Long Range.
Pada tahap kedua adalah tahap pre condition. Ditandai dengan munculnya kelompok diskusi dan study mahasiswa sebagai alternative aksi karena organisasi mahasiswa saat itu mulai sulit bergrak berperan, sebagai jalan masuknya teori-teori kritis seperti “ teori marxisme” . teori-teori kiri ini mulai digandrungi pemuda-pemuda saat itu karena salah satu penyebabnya, adalah teori-teori seperti itu dilarang di negri ini. Di UGM sendiri klompok-kelompok study ini amat banyak. Diantara yang trkenal adalah, kelopok study Cemara Tujuh, Dasakung, Teknosufi, dan kelompok stdy Palagan. Seperti yang sudah dijelaskan, kelompok-keompok study ini adalah tmpat persemaian teori-teori kiri yang walau dalam perkembangannya, buku-buku kiri ini dibredel namun para mahasiswa ini mampu mndapatkannya dalam bntuk fotocopyan. Bacaan kritis yang paling sering dibaca saat itu adalah seperti, “Tori Ketergantungan” dari Andre Gunder Frank. Maka tak heran, jika tonggak revolusi Indonesia, ada pada study-study mahasiswa.
Jika dilihat lebih teoristis, menurut Rudi Gunawan dan kawan-kawan, study mahasiswa ini adalah salah satu wadah perlawanan yang ada di Indonesia awal tahun 1990an. Stdy mahasiswa ini merupakan model ketiga yang merupakan diajdikan basis mahasiswa selain organisasi komite dan organisasi kerakyatan progresif. Organisasi komite lahir brsifat non permanen. Dalam artian organisasi ini ada karena momentum politik untuk merspon isu-isu tertentu. Kelebihan organisasi ini adalah kcepatannya dalam merespon momentum dan memobilisasi massa. Sedang yang kedua, organisasi mahasiswa progresif kerakyatan namanya, atau lebih dikenal dengan sebutan organisasi organisasi mahasiswa (ormas). Kemunculan ormas-ormas ini lebih disebabkan olh kritik dari kemandulan organ mahasiswa formal yang diakui pemerintah seperti, Himpunan mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonsia (GMKI). Kemunculan Front Aliansi Mahasiswa Indonesia (FAMI), Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera), Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Deemokrasi (SMID), dan organisasi prlawanan extra kampus lainnya menjadi contoh dari kritisasi mahasiswa tahun 1990an, hal ini disebabkan di dalam ormas ini proses ideology terinternalisasi secara sistematis, terpogram, dan dapat dilacak.

Walaupun begitu, dapat kita sepakati bahwa dalam kasus ini aksi-aksi besar yang terjadi berawal dari pembahasan bacaan-bacaan pemikiran-pmikran hebat di dalam diskusi.

Akan tetapi, perlu kiranya kita mengetahui apa yang mnyebabkan mahasiswa di Indonsia saat itu berani bertindak brutal dalam menyampaikan aspirasinya. Karena dapat dipastikan setiap aksi yang terjadi tidak prnah ada tanpa ada satu atau beberapa penyulut apinya. Dalam hal ini, Rudy dan kawan-kawan memberikan 5 deskripsi besar yang bisa dipakai untuk melihat penyulut api rformasi ini . Pertama adalah Pendulum Global Bergerak ke Kanan. Situasi global yang terjadi saat itu, adalah jatuhnya Tirani di Uni Soviet aan menyebabkan kehancuran semangat kemanusiaan. Hal ini digambarkan Noem Chomsky dengan tragis seiring dengan rasa frustasi pada kehancuran Sosialisme-Stalinisme yang menjadikan rzim Partai Komunis Cina menanggapi demonstrasi dengan militer. Seperti yang dikatakan Goenawan Muhammad, “Kekuasaan Komunis mati, tanpa perlu mencekiknya”.

Kedua, Tekanan Dunia Internasional. Kterikatan Orba dengan dunia kapitalisme Internasional ditandai dengan dibentuknya politik kebijakan Generelized System of Preference (GSP). Melalui ini, pemerintah AS akan dengan sangat mudah untuk emngkritik Indonesia. Maka dari itu, Indonesia harus mempertimbangkan politik AS ini jika tak ingin devisa yang besar aka hilang.

Ketiga, Retaknya Pendukung Orba. Hal ini bisa kita lihat dari perpecahan-perpecahan dan fraksionalisasi yang terjadi sehingga pemerintahan Orba menjadi terbelah menjadi ICMI dan lain-lain.

Keempat, adalah merebanknya Aksi massa. Tercatat pada tahun 1985 trjadi 78 pemogokan Buruh, tahun 1986 terjadi 73 Pemogokan, 1987 terjadi 37 pemogokan, 1988 trjadi 38 Pemogokan, 1989 terjadi 17 pemogokan, 1990 trjadi 61 pemogokan, 1991 trjadi 100 pemogokan, 1992 terjadi 251 pemogokan, 1993 terjadi 300 pemogokan, pan puncaknya tahun 1994 terjadi hampir mencapai 1.030 pemogokan di seluruh Indonesia.

Kelima, Hilangnya Tabu Teori “Kiri”. Sesuai dengan yng disampaikan diatas tadi ergrakan mahasiswa di Indonesia yang radikal saat itu dimulai dengan diskusi-diskusi mengenai bacaan kiri juga dipengaruhi oleh gerakan mahasiswa kiri di Filipina dan Korea.

Kembali kepada topic. Di dalam buku Menyulut Lahan Kering Perlawanan, gerakan mahasiswa tahun 1990an Rudy Gunawan dan kawan-kawan mengatakan, “Mahasiswa yang aktif dalam gerakan mahasiswa hanyalah minoritas di dalam kelas sosialnya”. Hal ini sangat menggambarkan bahwasanya gerakan mahasiswa yang terjadi saat itu dimulai dengan kelompok-kelompok minoritas. Karena sebagaian besar kalangan asih menganggap gerakan mahasiswa moral yang menilai mahasiswa tidak memiliki kepentingan dalam politik. Contoh yang bisa diambil yaitu pada tahun 1985 dihari sumpah pemuda, belasan mahasiswa UGM berkumpul meingkar di halaman gedung pusat UGM untuk melakukan orasi, membaca puisi dan lain-lain merupan aksi pertama yang dilakukan mahasiswa UGM stlah dibuatnya kebijakan pembungkam suara mahasiswa tersbut dan kemudian pada tahun 1987 sebuah insiden terjadi di kelas logika. Membuat para mahasiswa membuat biro Pembelaan Hak Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM. Biro ini bertujuan untuk melindungi hak-hak mahasiswa dalam berkuliah, yang kemudian dilanjutkan dengan bermacam-macam aksi besar berikutnya. Salah satu yang harus diingat adalah aksi jalan kaki 70 mahasiswa filsafat menju gedung DPD setelah memperingati hari sumpah pemuda di kampus UGM pada tahun 1987. Ini menjadi demonstari prtama yang dilakukan.

Sebelumnya terjadi aksi yang lebih besar dari yang diatas, dimulailah dengan pembentukan apa yang disebut dengan Pre Ciptian, yang dalam hal ini brbentuk pembuatan propaganda-propaganda dan konsolidasi dari organisasi lokal sampai nasional. Untuk lokal, dimulai oleh Andi Munjat di Yogyakarta yang membentuk SMY (Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta) sebagai kiprah pertamanya yang dapat dipastikan bahwa SMY menjadi poros terhadap gerakan progresif kerakyatan di berbagai kota yang menjadi cikal bakal lahirnya Solidaritas Mahasiswa Indonesia Demokrasi. Kemudian pada tahun 1990 mulailah muncul gerakan radikaldi Jakarta melalui konsolidasi majalah Progres seperti FSUI, FBB dan KSH yang membahas aksi-aksi buruh. Di daerah solo, keterlibatan unsure-unsur progresif masuk kedalam intern prs kampus seperti UNS yang kemudian diikuti dengan pembentukan Ikatan Mahasiswa Surakarta (IMS) pada tahun yang sama sebagai ikon aksi-aksi besar di Solo. Di semarang, konsolidasi terjadi akibat rpresi terhadap golongan putih tahun 1992 dan terbitan kampus yang digunakan saat itu adalah Hayam Wuruk yang menjadi perantara dengan kampus lain. Sedang IKIP, PGRI, dan SMS menggunakan pers mahasiswa Vokal. Lalu proses konsolidasi awal di Surabaya dilakukan di kampus Unnair dengan pembentukan Solidaritas Mahasiswa Surabaya (SMSB). Pada tahun 1993, KMB dibentuk sebagai kelompok study mentari. Kelompok ini kemudian membentuk Komite Mahasiswa Uiversitas Airlangga (KMUA) sebagai bentuk transformasi kelompok intelektual ke radikalisme. Sampai akhirnya, pertemuan nasional pertama dilakukan sebagai bentuk pengumpulan organisasi lokal pada bulan Nopember 1992 di Cisarua, Bogor. Di dalam pertemuan dibentuknya presidium Solidaritas Mahasiswa untuk Dmokrasi Indonesia (SMDI) dengan konsolidasi pentingnya adalah menolak penggusuran tanah petani di Jawa Timur. Kemudian pada prtemuan selanjutnya ditetapkan prubahan nama dari SMDI jadi SMID. Dengan propaganda-propaganda penghancuran Sektarianisme.di dalam hal ini pran pers mahasiswa digunakan untuk konsolidasi dan propaganda.

Klimaks dari tahapan ini adalah yang disebut dengan Event, yang dalam hal ini ditandai dengan apa yang disebut Reformasi terjadi gerakan mahasiswa pada mei 1998 dari Yogyakarta dengan isu :
1.Turunkan Suharto
2.Cabut Lima Paket UU Politik dan Dwifungsi ABRI
Hingga akibat yang terjadi adalah munculnya zaman reformasi di Indoneisa.

Sumber : Gunawan, FX Rudy. Dkk,2009.MENYULUT LAHAN KERING PERLAWANAN : Gerakan Mahasiswa 1990an, Tribute To Andi Munajat. Jakarta : Penerbit Spasi dan HVR Book

Kamis, 01 November 2012

AKU INGIN

aku Ingin
Sedikit saja
dan ku tau kau amat penuh.
Bahkan ketika bulan setengah waktu itu.
sampai ku simpan perammu yang membatu di pertigaan itu.

Aku ingin
saat membayangmu berkelakar hingga ujung subuh,
menggigil, seluruh
sampai mataku teteskan embun tulus untukmu
seprti saat Qur'an kita telanjangi dibawah purnama penuh

Aku ingin
luruh sampai lumpuh
Saat dengar indah aksaramu
pukul 10 itu

Aku ingin
Tapi aku tak mampu.


1 Nopember 2012

Sabtu, 27 Oktober 2012

ELEGI SUMPAH PEMUDA



Meraba pendar hujan dari balik jendela hari ini.
Bayangmu lagi-lagi menari di deretan rintik yang kian ringsut
menjadi perfait-perfait, seperti yang kau selipkan dalam buku sejarahku.
Menyimpan rindu pada sang pemimpi.
Mungkinkah ia kau tulis saat rintik sedang bergelayut didahan. Atau terperangkap diatas genteng?

Ah. Kau tau, ia kini duduk manis diantara buku filsafat dan ekonomi
Menunggu antrian ke sepuluh ribu untuk ku jenguki lagi.
Walau dulu.
selalu tersenyum renyah, sampai lengkungnya tak layak kunamai sumpah.
Semacam diary, mungkin..
Yang selalu asik diselami bersama coklat panas.
Bahkan jika Comte selalu mengajakku berdiskusi, kau tak habis akal merayu.

Terkadang kusesalkan jua hari itu ada.
Mengapa tak kau gunakan saja tintamu untuk tulis biografi.
Atau sejarah Yamin jadi pahlawan.
Karena hari ini sumpahmu ditinggalkan
Terlalu lamban dari jalan siput
Terlalu layu dari lembayung.


Tapi. Hari ini, ingin kujenguki kau kali pertama.
Pertanda hormat padamu, Yamin.
Kubuka lagi ranummu tahun 28.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Padang, 28 Okt 2012

Senin, 22 Oktober 2012

TAWURAN, Sekedar Eksistensi atau Sudah Jadi Kebutuhan?

“Dari pukul 00 sampai 04 WIB telah terjadi 5 kali tawuran”. sebuah berita yang saya baca pada running text di Metro TV pagi ini, 21 Oktober 2012. Rupanya tawuran sudah menjadi trend dikalangan anak muda Indonesia dewasa ini. Benarkah?
Tawuran mungkin saja sudah ada sejak lama, tetapi akhir-akhir ini “budaya” jelek tersebut semakin marak disiarkan oleh media. Pertanda tawuran sudah menjadi suatu masalah krusial yang harus ditindak lanjuti lebih dalam. Moh Kusnanto di dalam blognya mnyebutkan bahwa ada banyak sekali factor yang menyebabkan terjadinya tawuran, diantaranya adalah rendahnya kualitas pribadi dan social serta buruknya kualitas pendidikan. Tapi menurut saya sendiri, tawuran kini terjadi tidak hanya karena alasan-mendasar seperti itu saja.

Mengapa? Kita lihat saja realitas hari ini, tawuran sepertinya terjadi secara berkesinambungan. Setelah terjadi disekolah ini, besoknya terjadi disekolah lain. Setelah kampus ini, kampus lain pun turut mencari lawan cakak banyak[1] berikutnya. Tawuran layaknya sepak bola mungkin, jadwal digilir walau tak tertulis. Jam segini, jadwal tawuran sekolah A lawan sekolah B, nanti setelah zuhur giliran kampus ini lawan kampus itu. Begitu seterusnya, sampai puncaknya pada berita di atas tadi. Atau mungkin saja sampai artikel ini diturunkan, tawuran-tawuran lain terus mewarnai negeri ini.

Walaupun akibat yang dihasilkan juga tidak tanggung-tanggung, sekali tawuran seorang dua orang meninggal karenanya. Tetapi tawuran tetap saja berlanjut. Sebenarnya apa yang menjadi kepuasan suatu kelompok melakukan tawuran di Indonesia ini?
Di dalam teori Frustasi – Agresi adalah usaha seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan mengalami hambatan. Kondisi ini akan menimbulkan dorongan untuk bertindak agresif yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku untuk melukai seseorang atau merusak objek yang menyebabkan frustasi. Bisa jadi, tawuran dilakukan untuk mnghadapi hambatan-hambatan atau perilaku-perilaku yang membuat tujuan suatu kepentingan tidak tercapai. Namun ada keanehan disini, jika hanya itu mungkinkah ini terjadi secara berkelanjutan?

Teori berikutnya yang saya baca adalah Teori Kekerasan Kolektif. tujuan tawuran disini dijelaksan adalah untuk menunjukan kelompok pelajar mana yang lebih kuat dan patut ditakut. Jika begitu, mungkin saja kedepannya, kekuatan suatu kampus atau sekolah akan dilihat dari menang atau tidaknya ia dalam tawuran.
Miris. Satu kata yang bisa saya ucapkan kemudian. Bagaimana tidak, dengan fenomena yang terjadi, kita bisa lihat tawuran terjadi setiap hari. Hampir di semua daerah bagian Indonesia. Isi Pembukaan Undang-undang untuk mencrdaskan khidupan bangsa telah gagal, stidaknya dibidang emosional dan akhlak masyarakat Indonesia. Mungkinkah ini akan merembet pada masalah lain? Tak bisa disangkal, masalah ini bisa saja akan mejalar pada keadaan lain. Jadi mari berfikir, tawuran kini masih menjadi salah satu jalan untuk menunjukkan eksistensi kekuatan atau sudah menjadi kebutuhan untuk menunjukkan kekuatan itu sendiri?

Satu kekhawatiran kemudian muncul. Mungkinkah kita sudah lupa dengan Sumpah Pemuda? Dengan janji satu banga yang dibuat lalu dikoar-koarkan Muhammad Yamin dan kawan-kawan. Lalu apa hubungannya tawuran dengan sumpah pemuda? Yap. Tentu saja ada, jika kita sudah merasa bersaudara, masih mungkinkah kekerasan itu dilakukan. Logika saja, saudara tidak akan melukai saudaranya. Bahkan kalau bisa akan dilindungi dengan jiwa dan raga. Benar bukan?

Lalu apa solusinya. kalau menurut saya sendiri, Selain kembali menjadikan Sumpah Pemuda sebagai landasan hidup, timbulkan rasa cemburu yang positif. Salah satunya dengan menunjukkan kekuatan kita dibidang lain seperti membuat prestasi sekolah sendiri. Toh tawuran hanya akan menimbulkan kerugian-kerugian saja. Mngapa harus pilih yang buruk jika ada yang lebih baik. (naf)

ARTIKEL (21Oktoer 2012)

PENDIDIKAN YANG MEMUDAR

“Ukirkan dalam hati kapten masa depan! Lebih tangguh dari pada yang kita duga. Daripada terbawa hati yang gelisah. cobalah tuk menangis saja. Demi meraih masa depan terlihat, tak perlu ragu jadilah diri yang baru. Bukan demi tuk siapapun juga, cukup mencoba untuk jadi lebih hebat” sebuah lirik lagu yang gue dengan hari ini dari mesin penympan data temuan Charles babbage. Yap! Ini lirik dari Soundtrack film kartun Captain Tsubasa! Lirik yang kasi kita semangat berlipat-lipat dulu. Dari sini, gue jadi mikir knapa lagu-lagu keg gini ga lagi membahana dikalangan anak-anak umuran 7- 10 tahun. Anak-anak sekarang lebih kenal lagu Iwak Peyek.

Ya. Sebuah realita yang miris jika kita sadari kini. Dulu, hari minggu emang benar-benar jadi hari berlibur. (setidaknya buat gue. XD) setiap minggu pagi kita akan duduk manis didepan tv menunggu film-film kartun yang akan ditayangkan, mulai dari chibi maruko chan pada pukul 7 pagi hingga brakhir dengan cardcaptor sakura pukul 11 di RCTI lalu channel ditukar ke SCTV ada Pokemon kemudian pindah ke Indosiar ada Power Ranger nunggu. Sepertinya acara-acara kartun keag gini sudah hilang dari perderan. Walaupun gak benar-benar ilang. Yap! Film-film ini masih bisa kita temuin di Space Toon. Tapi, ini adil ga sih? Ngeliat Indonesia yang udah ramai sama orang-orang miskin. Sedang kita tahu, space toon cuman ada di TV kabel, yang notabene mahal banget harga penyewannya (walaupun skarang enggak). gimana dengan anak-anak lain? Mereka terpaksa nikmatin acara-acara yang ditayangkan hari ini. Acara musik pagi-pagi, misalnya. Parahnya, hari minggu acara music ini juga ditayangin!! Tanpa mereka sadarin sangat tidak mendidik. Lalu apa gunanya film-film kartun kita dulu?

Di dalam pskilogi perkembangan, dijelaskan bahwa perkembangan masa kecil akan mempengaruhi perkebangan berikutnya. Nah dari sini, gue mikir lagi, film-film kartun yang disiarkan pada tahun 199an sampai 2000an itu memberikan pendidkan yang amat penting ternyata. Gimana enggak, di dalamnya kita belajar bagaimana bersahabat, seperti kartun Hamtaro. Belajar berjuang, seperti kartun Captain Tsubasa, atau bahkan patuh pada orang tua, seperti kartun chibi maruko chan. Sebuah pendidikan, yang gak prnah kita sadari sebelumnya (yang setuju ngacung). Yap, bagaimana orang-orang seperti Ippho Santosa, atau Saptuari Sugiharto lahir jadi pribadi yang kreatif. Gue yakin mereka dulu juga nonton film kartun sperti ini sampai jadiin mereka mampu memutar otak untuk hidup yang lebih indah. Mungkin ini cuman pendapat subjektif gue. Tapi gue juga yakin banget manusia-manusia yang sempat nikmatin kartun-kartun berkualitas keag gitu bakalan ngangguk-ngangguk. Kenapa gue bilang berkualitas, karena emank ngedidik kita banget. Dari lirik soundtracknya ajah udah ngajarin kehidupan. Bener gak?

Nah, seperti yang udah dijelasin diatas tadi, hari ini lagu-lagu keag gitu sangat asing ditelinga merka. Masa coba, mereka lebih tau lagu Trio macan, atau ZIfilia. Bukan mau ngejlek-jelekinin, tapi apa pantas ini jadi konsumsi anak-anak Indonesia kebanyakan yang tidak memiliki tv kabel? Cuman bisa nikmatin channel nasional seperti RCTI, INDOSIAR, SCTV, MNC TV, atau ANTV. Memang benar. Masih ada doraemon dan crayon sinchan setiap minggu pagi dan film-film kartun lain yang ditayangkan diwaktu berbeda. Tapi menurut gue itu aja gak cukup. Bagaimana dulu, acara hari minggu itu dirancang memang untuk anak-anak. Bisa dibilang, hakikat Minggu sebagai hari libur benar-benar direalisasikan waktu itu. Namun apa realita hari ini, setelah doraemon langsung disambut dengan acara music alay yang selalu mereka lihat selama 6 hari sebelumnya. Membuyarkan cerita anak-anak yang dikemas apik dalam sebuah kartun. Pantas saja mereka lebih menyukai game online. Karena acara TV sangat membosankan. Walaupun sebenarnya, gue yakin televisi diciptakan dulunya untuk menyampaikan informasi berarti. Nah sekarang, siapa yang salah?

Renungan ini setidaknya buat kita mikir. Alangkah kasiannya adek-adek kita hari ini. gimana kehidupan mereka nanti jika film-film berkualitas seperti dulu diganti dengan acara music yang ga ngdidik, selain semangat lalala yeyeye nya. Juga sinetron-sinetron yang ada. Dulu kita kenal Keluarga Cemara yang juga berkualitas. Miris bget pas tau adek gue yang umuran 7 tahun suka sintron putih abu-abu. Pas gue nanya sama mama, kenapa ga ada kartun-kartun itu lagi. Mama cuman jawab, sewa filmnya mahal. Kita udah jadi Negara miskin. Nah dari sini juga, gue mikir lagi, sewa kartun Doremon dan Sinchan juga mahal. Kenapa masih ada? Bahkan gue amat yakin bahwa harga sewa kartun Doraemon lebih mahal dari Captain Tsubasa. Kenapa masih ada? Mungkin memang benar kita kini adalah Negara yang miskin, tapi apa dengan kemiskinan ini kita harus pasrah dengan keadaan? Alhasil adek-adek kita Terpaksa menikmati dan keterusan candu dengan acara seperti sekarang. Mungkin saja nanti ga akan ada Ipho santosa atau Saptuari ke 2, ke 3, dan seterusnya? Spertinya isi pembukaan UUD 1945, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini sengaja dikaburkan. pendidikan kita dirancang sedemikian rupa menjadi habis sehabis-habisnya. Proses pembelajaran dirancang hanya dari sekolahan. Dan sekolahan pun skarang dibuat sulit sesulit-sulitnya. Uang sekolah makin mahal, harga-harga buku juga mahal, pendidikan menjadi sesuatu yang eksklusif. Secara ga sadar, ini dulu pernah terjadi pada zaman Kolonial. Ketika masyarakat pribumi hanya boleh blajar dalam sekolah rendah. Dan sekolah tinggi hanya boleh dinikmatin oleh orang-orang yang berada. Bahakan skarang lebih parah bukan? Kita dibuat mnikmati pencerdasan yang semu.

Lalu bagaimana sekarang cara untuk menyelamatkan hidup bangsa yang udah ditepi jurang ini? Menurut gue cuman dua, prtama. Buat atau hidupkan lagi kartun mendidik hasil karya kita. Jika benar tak bisa merubah system yang sudah bengkok ini, Toh, kita mempunyai orang-orang hebat dibidang ini. Ceritakan dengan kearifan lokal yang kita punya, karena tanpa disadarin cerita-cerita seperti sangkuring atau malin kundang gak kalah dengan cerita captain Tsubasa, atau Chibi maruko chan. Atau kedua, Kita bisa menceritakan kembali cerita-crita seperti Captain Tsubasa sebelum mereka tidur. Jadikan sbgai penghantar mereka tidur. Bhkan tak hanya itu, kita bisa menceritakan cerita-cerita ibu kita dulu.

Nah, skarang jalan Indonesia kita yang pegang kawan-kawan. Apa mau, hanya brnostalgia dengan kartun-kartun lama, tanpa sadar adek-adek kita udah diprbodoh dan kita kembali dituntun jadi bangsa terjajah. Membiarkan sjarah itu berulang lagi. Semua tergantug kita. (naf)

ARTIKL (20 April 2012)