lalu, biarlah sejenak kunikmati riuh ini.
peneman madre dan gorengan yang kubeli di gang sebelah rumah.
sungguh, ini seperti senja yang kita seduh desember lalu;
hei, apa kau ingat?
ah. kau tentu terlalu sibuk tuk sekedar memberi senyum pada masa lalu.
aku tau itu.
dan hari ini,
hari ini aku hanya akan menegaknya sendiri,
air mataku sendiri
padang, april2013
Laman
Sabtu, 27 April 2013
RINDU
Apa kabar manis?
hari ini angin menyanyi namamu sepanjang detik berdentum berganti lagu.
oh. tanpa hujan,tentu!
ia berdendang bersama langit biru
seperti mengerti, daunpun ikut berseru merdu.
Tidakkah kau rasai itu?
sedang apa kau, cantik?
semalam, aku iseng menggambari rupamu yang mulai tersapu waktu.
dan kupetik bintang, tuk jadi jerawat lucumu diatas kanvasku
akh. tapi mengapa wajahmu jadi seperti domba ungu?
mungkinkah, karna saat itu kelam tengah menemaniku menghitung domba dungu?
dimana kau kini sayang?
masih ingatkah kau pada janji kita dulua
kan bertemu lagi, di akhir lagu.
akh... semoga tidurmu selalu berselimut rindu,
hari ini angin menyanyi namamu sepanjang detik berdentum berganti lagu.
oh. tanpa hujan,tentu!
ia berdendang bersama langit biru
seperti mengerti, daunpun ikut berseru merdu.
Tidakkah kau rasai itu?
sedang apa kau, cantik?
semalam, aku iseng menggambari rupamu yang mulai tersapu waktu.
dan kupetik bintang, tuk jadi jerawat lucumu diatas kanvasku
akh. tapi mengapa wajahmu jadi seperti domba ungu?
mungkinkah, karna saat itu kelam tengah menemaniku menghitung domba dungu?
dimana kau kini sayang?
masih ingatkah kau pada janji kita dulua
kan bertemu lagi, di akhir lagu.
akh... semoga tidurmu selalu berselimut rindu,
Senin, 15 April 2013
matahari redup
dan kini, aku tak mau lagi menatap senyum mentari
bahkan sedari embun yang cumbui dedaunan pagi
merayap seperti pasar pagi.
hari itu, ia berjalan beriring hingga petang hari
bertudung dan bersarung salendang penikmat kaki
ia, bernama bulan
penyeduh malamku berwarna kelabu
jadi teh hangat atau capuccinno cream khas ibu
hingga pagi dtang menyapa,
ia telah bergeriliya mencari sayuran utuh.
taoi hari itu ia tak mampu lagi masukkan gula dalam cangkirku.
bahkan untuk pindah dari dipan ungu
kaku.
dan kini, matahari itu tlah redup dimataku
bahkan semenjak ibu kaku
dan ia ikut kaku.
membantu disudut rumah yang berseliweran babu.
13 April 2013
bahkan sedari embun yang cumbui dedaunan pagi
merayap seperti pasar pagi.
hari itu, ia berjalan beriring hingga petang hari
bertudung dan bersarung salendang penikmat kaki
ia, bernama bulan
penyeduh malamku berwarna kelabu
jadi teh hangat atau capuccinno cream khas ibu
hingga pagi dtang menyapa,
ia telah bergeriliya mencari sayuran utuh.
taoi hari itu ia tak mampu lagi masukkan gula dalam cangkirku.
bahkan untuk pindah dari dipan ungu
kaku.
dan kini, matahari itu tlah redup dimataku
bahkan semenjak ibu kaku
dan ia ikut kaku.
membantu disudut rumah yang berseliweran babu.
13 April 2013
Dan
dan mentari ini terbit kembali
apa kau tak melihatnya?
tidakkah kau rasa cahayanya,
tengah rabai tubuhmu yang gigil kedinginan
ia tengah tersenyum manja,
bersiap halau hujan yang terlalu deras hingga tak sempat kau seka.
dan mungkin akan segera badai disana
didalam matamu yang kian tua.
hei, tidakkah kau sadari cecapannya.
bahkan saat dicumbuinya dedaunanmu yang layu, amat mesra?
hingga lagi, kau punya nyawa.
hayolah,
kau tentu tak ingin ia redup lagi!
apa kau tak melihatnya?
tidakkah kau rasa cahayanya,
tengah rabai tubuhmu yang gigil kedinginan
ia tengah tersenyum manja,
bersiap halau hujan yang terlalu deras hingga tak sempat kau seka.
dan mungkin akan segera badai disana
didalam matamu yang kian tua.
hei, tidakkah kau sadari cecapannya.
bahkan saat dicumbuinya dedaunanmu yang layu, amat mesra?
hingga lagi, kau punya nyawa.
hayolah,
kau tentu tak ingin ia redup lagi!
Senin, 08 April 2013
Negeri Para Nelayan
ini negeri para nelayan
tempat cadik parkir tanpa pungutan
bahkan,
ribuan senyum menghampar disemua pelosok negri.
seperti ikan yang kau jemur layaknya turis pulau bali.
tapi,
aku tak temukan ikan apapun disini
sedang sudah ribuan hari aku mendayung bidukku hingga aku mati
arungi airmata negri ini
hanya sepatu usang dan berton-ton besi, keluhmu lagi
hei...
ini negeri para nelayan, bung!
ketika kau bersiap melaut lagi
kau harus pandai kerdipi bulan dan mentari
agar kau bisa dapati ikan dan pelangi
hanya untukmu sendiri.
padang, April 2013
tempat cadik parkir tanpa pungutan
bahkan,
ribuan senyum menghampar disemua pelosok negri.
seperti ikan yang kau jemur layaknya turis pulau bali.
tapi,
aku tak temukan ikan apapun disini
sedang sudah ribuan hari aku mendayung bidukku hingga aku mati
arungi airmata negri ini
hanya sepatu usang dan berton-ton besi, keluhmu lagi
hei...
ini negeri para nelayan, bung!
ketika kau bersiap melaut lagi
kau harus pandai kerdipi bulan dan mentari
agar kau bisa dapati ikan dan pelangi
hanya untukmu sendiri.
padang, April 2013
Rabu, 27 Maret 2013
SAJAK A
Kini, kau tau?
Gemamu tak lagi kurasa.
Walau entah berapa kali kau coba berteriak di tebing duka.
Tapi seperti ditelan suka,
kau kehilangan suara.
Pula,
kulihat pelangimu kehilangan warna.
Bukankah sudah kita beli cat berjuta-juta?
Tapi mengapa?
Abu-abu saja .
Yang kau gambari di kanvasmu yang kian tua
Tidakkah kau lihat merah, kuning bahkan hijau disana?
Mereka berharap untuk kau raba.
Dan kini pula,
kulihat mendung kian mendekati kau, pak tua.
Bersiap turuni hujani tawa, yang entah dari siapa?
Kau yang kini menunduk saja,
cobalah mendongak sejenak.
Masih ada mentari di sana.
Hei..
Mengapa kau sembunyi dibalik senja?
Mengapa diam saja?
Ayolah,
aku membawakanmu pagi ceria.
Mengajakmu memulai lagi, semua.
Padang, 27 maret 2013
Gemamu tak lagi kurasa.
Walau entah berapa kali kau coba berteriak di tebing duka.
Tapi seperti ditelan suka,
kau kehilangan suara.
Pula,
kulihat pelangimu kehilangan warna.
Bukankah sudah kita beli cat berjuta-juta?
Tapi mengapa?
Abu-abu saja .
Yang kau gambari di kanvasmu yang kian tua
Tidakkah kau lihat merah, kuning bahkan hijau disana?
Mereka berharap untuk kau raba.
Dan kini pula,
kulihat mendung kian mendekati kau, pak tua.
Bersiap turuni hujani tawa, yang entah dari siapa?
Kau yang kini menunduk saja,
cobalah mendongak sejenak.
Masih ada mentari di sana.
Hei..
Mengapa kau sembunyi dibalik senja?
Mengapa diam saja?
Ayolah,
aku membawakanmu pagi ceria.
Mengajakmu memulai lagi, semua.
Padang, 27 maret 2013
Kamis, 14 Maret 2013
Ingin Mati
aku pernah bermimpi.
tenggelam di laut mati
agar tak ada yang tau aku pergi
mengambang sendiri sampai digigiti pari.
aku pernah bermimpi.
mati di dalam tidurku yang sepi
agar tak sempat kulihat kau termagu sendu,
saat malaikat maut datang memanggul palu.
tapi aku ingin mati disampingmu,
agar kau selalu ingat, aku yang selalu bernafas untukmu.
Padang, 13 Mei 2013
tenggelam di laut mati
agar tak ada yang tau aku pergi
mengambang sendiri sampai digigiti pari.
aku pernah bermimpi.
mati di dalam tidurku yang sepi
agar tak sempat kulihat kau termagu sendu,
saat malaikat maut datang memanggul palu.
tapi aku ingin mati disampingmu,
agar kau selalu ingat, aku yang selalu bernafas untukmu.
Padang, 13 Mei 2013
Langganan:
Postingan (Atom)