“Dari pukul 00 sampai 04 WIB telah terjadi 5 kali tawuran”. sebuah berita yang saya baca pada running text di Metro TV pagi ini, 21 Oktober 2012. Rupanya tawuran sudah menjadi trend dikalangan anak muda Indonesia dewasa ini. Benarkah?
Tawuran mungkin saja sudah ada sejak lama, tetapi akhir-akhir ini “budaya” jelek tersebut semakin marak disiarkan oleh media. Pertanda tawuran sudah menjadi suatu masalah krusial yang harus ditindak lanjuti lebih dalam. Moh Kusnanto di dalam blognya mnyebutkan bahwa ada banyak sekali factor yang menyebabkan terjadinya tawuran, diantaranya adalah rendahnya kualitas pribadi dan social serta buruknya kualitas pendidikan. Tapi menurut saya sendiri, tawuran kini terjadi tidak hanya karena alasan-mendasar seperti itu saja.
Mengapa? Kita lihat saja realitas hari ini, tawuran sepertinya terjadi secara berkesinambungan. Setelah terjadi disekolah ini, besoknya terjadi disekolah lain. Setelah kampus ini, kampus lain pun turut mencari lawan cakak banyak[1] berikutnya. Tawuran layaknya sepak bola mungkin, jadwal digilir walau tak tertulis. Jam segini, jadwal tawuran sekolah A lawan sekolah B, nanti setelah zuhur giliran kampus ini lawan kampus itu. Begitu seterusnya, sampai puncaknya pada berita di atas tadi. Atau mungkin saja sampai artikel ini diturunkan, tawuran-tawuran lain terus mewarnai negeri ini.
Walaupun akibat yang dihasilkan juga tidak tanggung-tanggung, sekali tawuran seorang dua orang meninggal karenanya. Tetapi tawuran tetap saja berlanjut. Sebenarnya apa yang menjadi kepuasan suatu kelompok melakukan tawuran di Indonesia ini?
Di dalam teori Frustasi – Agresi adalah usaha seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan mengalami hambatan. Kondisi ini akan menimbulkan dorongan untuk bertindak agresif yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku untuk melukai seseorang atau merusak objek yang menyebabkan frustasi. Bisa jadi, tawuran dilakukan untuk mnghadapi hambatan-hambatan atau perilaku-perilaku yang membuat tujuan suatu kepentingan tidak tercapai. Namun ada keanehan disini, jika hanya itu mungkinkah ini terjadi secara berkelanjutan?
Teori berikutnya yang saya baca adalah Teori Kekerasan Kolektif. tujuan tawuran disini dijelaksan adalah untuk menunjukan kelompok pelajar mana yang lebih kuat dan patut ditakut. Jika begitu, mungkin saja kedepannya, kekuatan suatu kampus atau sekolah akan dilihat dari menang atau tidaknya ia dalam tawuran.
Miris. Satu kata yang bisa saya ucapkan kemudian. Bagaimana tidak, dengan fenomena yang terjadi, kita bisa lihat tawuran terjadi setiap hari. Hampir di semua daerah bagian Indonesia. Isi Pembukaan Undang-undang untuk mencrdaskan khidupan bangsa telah gagal, stidaknya dibidang emosional dan akhlak masyarakat Indonesia. Mungkinkah ini akan merembet pada masalah lain? Tak bisa disangkal, masalah ini bisa saja akan mejalar pada keadaan lain. Jadi mari berfikir, tawuran kini masih menjadi salah satu jalan untuk menunjukkan eksistensi kekuatan atau sudah menjadi kebutuhan untuk menunjukkan kekuatan itu sendiri?
Satu kekhawatiran kemudian muncul. Mungkinkah kita sudah lupa dengan Sumpah Pemuda? Dengan janji satu banga yang dibuat lalu dikoar-koarkan Muhammad Yamin dan kawan-kawan. Lalu apa hubungannya tawuran dengan sumpah pemuda? Yap. Tentu saja ada, jika kita sudah merasa bersaudara, masih mungkinkah kekerasan itu dilakukan. Logika saja, saudara tidak akan melukai saudaranya. Bahkan kalau bisa akan dilindungi dengan jiwa dan raga. Benar bukan?
Lalu apa solusinya. kalau menurut saya sendiri, Selain kembali menjadikan Sumpah Pemuda sebagai landasan hidup, timbulkan rasa cemburu yang positif. Salah satunya dengan menunjukkan kekuatan kita dibidang lain seperti membuat prestasi sekolah sendiri. Toh tawuran hanya akan menimbulkan kerugian-kerugian saja. Mngapa harus pilih yang buruk jika ada yang lebih baik. (naf)
ARTIKEL (21Oktoer 2012)
Laman
Senin, 22 Oktober 2012
PENDIDIKAN YANG MEMUDAR
“Ukirkan dalam hati kapten masa depan! Lebih tangguh dari pada yang kita duga. Daripada terbawa hati yang gelisah. cobalah tuk menangis saja. Demi meraih masa depan terlihat, tak perlu ragu jadilah diri yang baru. Bukan demi tuk siapapun juga, cukup mencoba untuk jadi lebih hebat” sebuah lirik lagu yang gue dengan hari ini dari mesin penympan data temuan Charles babbage. Yap! Ini lirik dari Soundtrack film kartun Captain Tsubasa! Lirik yang kasi kita semangat berlipat-lipat dulu. Dari sini, gue jadi mikir knapa lagu-lagu keg gini ga lagi membahana dikalangan anak-anak umuran 7- 10 tahun. Anak-anak sekarang lebih kenal lagu Iwak Peyek.
Ya. Sebuah realita yang miris jika kita sadari kini. Dulu, hari minggu emang benar-benar jadi hari berlibur. (setidaknya buat gue. XD) setiap minggu pagi kita akan duduk manis didepan tv menunggu film-film kartun yang akan ditayangkan, mulai dari chibi maruko chan pada pukul 7 pagi hingga brakhir dengan cardcaptor sakura pukul 11 di RCTI lalu channel ditukar ke SCTV ada Pokemon kemudian pindah ke Indosiar ada Power Ranger nunggu. Sepertinya acara-acara kartun keag gini sudah hilang dari perderan. Walaupun gak benar-benar ilang. Yap! Film-film ini masih bisa kita temuin di Space Toon. Tapi, ini adil ga sih? Ngeliat Indonesia yang udah ramai sama orang-orang miskin. Sedang kita tahu, space toon cuman ada di TV kabel, yang notabene mahal banget harga penyewannya (walaupun skarang enggak). gimana dengan anak-anak lain? Mereka terpaksa nikmatin acara-acara yang ditayangkan hari ini. Acara musik pagi-pagi, misalnya. Parahnya, hari minggu acara music ini juga ditayangin!! Tanpa mereka sadarin sangat tidak mendidik. Lalu apa gunanya film-film kartun kita dulu?
Di dalam pskilogi perkembangan, dijelaskan bahwa perkembangan masa kecil akan mempengaruhi perkebangan berikutnya. Nah dari sini, gue mikir lagi, film-film kartun yang disiarkan pada tahun 199an sampai 2000an itu memberikan pendidkan yang amat penting ternyata. Gimana enggak, di dalamnya kita belajar bagaimana bersahabat, seperti kartun Hamtaro. Belajar berjuang, seperti kartun Captain Tsubasa, atau bahkan patuh pada orang tua, seperti kartun chibi maruko chan. Sebuah pendidikan, yang gak prnah kita sadari sebelumnya (yang setuju ngacung). Yap, bagaimana orang-orang seperti Ippho Santosa, atau Saptuari Sugiharto lahir jadi pribadi yang kreatif. Gue yakin mereka dulu juga nonton film kartun sperti ini sampai jadiin mereka mampu memutar otak untuk hidup yang lebih indah. Mungkin ini cuman pendapat subjektif gue. Tapi gue juga yakin banget manusia-manusia yang sempat nikmatin kartun-kartun berkualitas keag gitu bakalan ngangguk-ngangguk. Kenapa gue bilang berkualitas, karena emank ngedidik kita banget. Dari lirik soundtracknya ajah udah ngajarin kehidupan. Bener gak?
Nah, seperti yang udah dijelasin diatas tadi, hari ini lagu-lagu keag gitu sangat asing ditelinga merka. Masa coba, mereka lebih tau lagu Trio macan, atau ZIfilia. Bukan mau ngejlek-jelekinin, tapi apa pantas ini jadi konsumsi anak-anak Indonesia kebanyakan yang tidak memiliki tv kabel? Cuman bisa nikmatin channel nasional seperti RCTI, INDOSIAR, SCTV, MNC TV, atau ANTV. Memang benar. Masih ada doraemon dan crayon sinchan setiap minggu pagi dan film-film kartun lain yang ditayangkan diwaktu berbeda. Tapi menurut gue itu aja gak cukup. Bagaimana dulu, acara hari minggu itu dirancang memang untuk anak-anak. Bisa dibilang, hakikat Minggu sebagai hari libur benar-benar direalisasikan waktu itu. Namun apa realita hari ini, setelah doraemon langsung disambut dengan acara music alay yang selalu mereka lihat selama 6 hari sebelumnya. Membuyarkan cerita anak-anak yang dikemas apik dalam sebuah kartun. Pantas saja mereka lebih menyukai game online. Karena acara TV sangat membosankan. Walaupun sebenarnya, gue yakin televisi diciptakan dulunya untuk menyampaikan informasi berarti. Nah sekarang, siapa yang salah?
Renungan ini setidaknya buat kita mikir. Alangkah kasiannya adek-adek kita hari ini. gimana kehidupan mereka nanti jika film-film berkualitas seperti dulu diganti dengan acara music yang ga ngdidik, selain semangat lalala yeyeye nya. Juga sinetron-sinetron yang ada. Dulu kita kenal Keluarga Cemara yang juga berkualitas. Miris bget pas tau adek gue yang umuran 7 tahun suka sintron putih abu-abu. Pas gue nanya sama mama, kenapa ga ada kartun-kartun itu lagi. Mama cuman jawab, sewa filmnya mahal. Kita udah jadi Negara miskin. Nah dari sini juga, gue mikir lagi, sewa kartun Doremon dan Sinchan juga mahal. Kenapa masih ada? Bahkan gue amat yakin bahwa harga sewa kartun Doraemon lebih mahal dari Captain Tsubasa. Kenapa masih ada? Mungkin memang benar kita kini adalah Negara yang miskin, tapi apa dengan kemiskinan ini kita harus pasrah dengan keadaan? Alhasil adek-adek kita Terpaksa menikmati dan keterusan candu dengan acara seperti sekarang. Mungkin saja nanti ga akan ada Ipho santosa atau Saptuari ke 2, ke 3, dan seterusnya? Spertinya isi pembukaan UUD 1945, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini sengaja dikaburkan. pendidikan kita dirancang sedemikian rupa menjadi habis sehabis-habisnya. Proses pembelajaran dirancang hanya dari sekolahan. Dan sekolahan pun skarang dibuat sulit sesulit-sulitnya. Uang sekolah makin mahal, harga-harga buku juga mahal, pendidikan menjadi sesuatu yang eksklusif. Secara ga sadar, ini dulu pernah terjadi pada zaman Kolonial. Ketika masyarakat pribumi hanya boleh blajar dalam sekolah rendah. Dan sekolah tinggi hanya boleh dinikmatin oleh orang-orang yang berada. Bahakan skarang lebih parah bukan? Kita dibuat mnikmati pencerdasan yang semu.
Lalu bagaimana sekarang cara untuk menyelamatkan hidup bangsa yang udah ditepi jurang ini? Menurut gue cuman dua, prtama. Buat atau hidupkan lagi kartun mendidik hasil karya kita. Jika benar tak bisa merubah system yang sudah bengkok ini, Toh, kita mempunyai orang-orang hebat dibidang ini. Ceritakan dengan kearifan lokal yang kita punya, karena tanpa disadarin cerita-cerita seperti sangkuring atau malin kundang gak kalah dengan cerita captain Tsubasa, atau Chibi maruko chan. Atau kedua, Kita bisa menceritakan kembali cerita-crita seperti Captain Tsubasa sebelum mereka tidur. Jadikan sbgai penghantar mereka tidur. Bhkan tak hanya itu, kita bisa menceritakan cerita-cerita ibu kita dulu.
Nah, skarang jalan Indonesia kita yang pegang kawan-kawan. Apa mau, hanya brnostalgia dengan kartun-kartun lama, tanpa sadar adek-adek kita udah diprbodoh dan kita kembali dituntun jadi bangsa terjajah. Membiarkan sjarah itu berulang lagi. Semua tergantug kita. (naf)
ARTIKL (20 April 2012)
Ya. Sebuah realita yang miris jika kita sadari kini. Dulu, hari minggu emang benar-benar jadi hari berlibur. (setidaknya buat gue. XD) setiap minggu pagi kita akan duduk manis didepan tv menunggu film-film kartun yang akan ditayangkan, mulai dari chibi maruko chan pada pukul 7 pagi hingga brakhir dengan cardcaptor sakura pukul 11 di RCTI lalu channel ditukar ke SCTV ada Pokemon kemudian pindah ke Indosiar ada Power Ranger nunggu. Sepertinya acara-acara kartun keag gini sudah hilang dari perderan. Walaupun gak benar-benar ilang. Yap! Film-film ini masih bisa kita temuin di Space Toon. Tapi, ini adil ga sih? Ngeliat Indonesia yang udah ramai sama orang-orang miskin. Sedang kita tahu, space toon cuman ada di TV kabel, yang notabene mahal banget harga penyewannya (walaupun skarang enggak). gimana dengan anak-anak lain? Mereka terpaksa nikmatin acara-acara yang ditayangkan hari ini. Acara musik pagi-pagi, misalnya. Parahnya, hari minggu acara music ini juga ditayangin!! Tanpa mereka sadarin sangat tidak mendidik. Lalu apa gunanya film-film kartun kita dulu?
Di dalam pskilogi perkembangan, dijelaskan bahwa perkembangan masa kecil akan mempengaruhi perkebangan berikutnya. Nah dari sini, gue mikir lagi, film-film kartun yang disiarkan pada tahun 199an sampai 2000an itu memberikan pendidkan yang amat penting ternyata. Gimana enggak, di dalamnya kita belajar bagaimana bersahabat, seperti kartun Hamtaro. Belajar berjuang, seperti kartun Captain Tsubasa, atau bahkan patuh pada orang tua, seperti kartun chibi maruko chan. Sebuah pendidikan, yang gak prnah kita sadari sebelumnya (yang setuju ngacung). Yap, bagaimana orang-orang seperti Ippho Santosa, atau Saptuari Sugiharto lahir jadi pribadi yang kreatif. Gue yakin mereka dulu juga nonton film kartun sperti ini sampai jadiin mereka mampu memutar otak untuk hidup yang lebih indah. Mungkin ini cuman pendapat subjektif gue. Tapi gue juga yakin banget manusia-manusia yang sempat nikmatin kartun-kartun berkualitas keag gitu bakalan ngangguk-ngangguk. Kenapa gue bilang berkualitas, karena emank ngedidik kita banget. Dari lirik soundtracknya ajah udah ngajarin kehidupan. Bener gak?
Nah, seperti yang udah dijelasin diatas tadi, hari ini lagu-lagu keag gitu sangat asing ditelinga merka. Masa coba, mereka lebih tau lagu Trio macan, atau ZIfilia. Bukan mau ngejlek-jelekinin, tapi apa pantas ini jadi konsumsi anak-anak Indonesia kebanyakan yang tidak memiliki tv kabel? Cuman bisa nikmatin channel nasional seperti RCTI, INDOSIAR, SCTV, MNC TV, atau ANTV. Memang benar. Masih ada doraemon dan crayon sinchan setiap minggu pagi dan film-film kartun lain yang ditayangkan diwaktu berbeda. Tapi menurut gue itu aja gak cukup. Bagaimana dulu, acara hari minggu itu dirancang memang untuk anak-anak. Bisa dibilang, hakikat Minggu sebagai hari libur benar-benar direalisasikan waktu itu. Namun apa realita hari ini, setelah doraemon langsung disambut dengan acara music alay yang selalu mereka lihat selama 6 hari sebelumnya. Membuyarkan cerita anak-anak yang dikemas apik dalam sebuah kartun. Pantas saja mereka lebih menyukai game online. Karena acara TV sangat membosankan. Walaupun sebenarnya, gue yakin televisi diciptakan dulunya untuk menyampaikan informasi berarti. Nah sekarang, siapa yang salah?
Renungan ini setidaknya buat kita mikir. Alangkah kasiannya adek-adek kita hari ini. gimana kehidupan mereka nanti jika film-film berkualitas seperti dulu diganti dengan acara music yang ga ngdidik, selain semangat lalala yeyeye nya. Juga sinetron-sinetron yang ada. Dulu kita kenal Keluarga Cemara yang juga berkualitas. Miris bget pas tau adek gue yang umuran 7 tahun suka sintron putih abu-abu. Pas gue nanya sama mama, kenapa ga ada kartun-kartun itu lagi. Mama cuman jawab, sewa filmnya mahal. Kita udah jadi Negara miskin. Nah dari sini juga, gue mikir lagi, sewa kartun Doremon dan Sinchan juga mahal. Kenapa masih ada? Bahkan gue amat yakin bahwa harga sewa kartun Doraemon lebih mahal dari Captain Tsubasa. Kenapa masih ada? Mungkin memang benar kita kini adalah Negara yang miskin, tapi apa dengan kemiskinan ini kita harus pasrah dengan keadaan? Alhasil adek-adek kita Terpaksa menikmati dan keterusan candu dengan acara seperti sekarang. Mungkin saja nanti ga akan ada Ipho santosa atau Saptuari ke 2, ke 3, dan seterusnya? Spertinya isi pembukaan UUD 1945, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini sengaja dikaburkan. pendidikan kita dirancang sedemikian rupa menjadi habis sehabis-habisnya. Proses pembelajaran dirancang hanya dari sekolahan. Dan sekolahan pun skarang dibuat sulit sesulit-sulitnya. Uang sekolah makin mahal, harga-harga buku juga mahal, pendidikan menjadi sesuatu yang eksklusif. Secara ga sadar, ini dulu pernah terjadi pada zaman Kolonial. Ketika masyarakat pribumi hanya boleh blajar dalam sekolah rendah. Dan sekolah tinggi hanya boleh dinikmatin oleh orang-orang yang berada. Bahakan skarang lebih parah bukan? Kita dibuat mnikmati pencerdasan yang semu.
Lalu bagaimana sekarang cara untuk menyelamatkan hidup bangsa yang udah ditepi jurang ini? Menurut gue cuman dua, prtama. Buat atau hidupkan lagi kartun mendidik hasil karya kita. Jika benar tak bisa merubah system yang sudah bengkok ini, Toh, kita mempunyai orang-orang hebat dibidang ini. Ceritakan dengan kearifan lokal yang kita punya, karena tanpa disadarin cerita-cerita seperti sangkuring atau malin kundang gak kalah dengan cerita captain Tsubasa, atau Chibi maruko chan. Atau kedua, Kita bisa menceritakan kembali cerita-crita seperti Captain Tsubasa sebelum mereka tidur. Jadikan sbgai penghantar mereka tidur. Bhkan tak hanya itu, kita bisa menceritakan cerita-cerita ibu kita dulu.
Nah, skarang jalan Indonesia kita yang pegang kawan-kawan. Apa mau, hanya brnostalgia dengan kartun-kartun lama, tanpa sadar adek-adek kita udah diprbodoh dan kita kembali dituntun jadi bangsa terjajah. Membiarkan sjarah itu berulang lagi. Semua tergantug kita. (naf)
ARTIKL (20 April 2012)
Selasa, 09 Oktober 2012
KITA
Dimana bisa kutemui kau?
Sungguh ingin kuhidangkan dada yang tlah kumasak dan
kutaburi bumbu sendu
Agar kau tau,
Kini kita siap jadi santapan
Apa nama yang tepat, kalau begitu.
Padang, 1 Agustus 2012
DI SUNGAI BARITO
Kau
ingat perahu kertas yang kita buat dulu?
Dari
kertas buku bergaris milik ibu …
“Sttt..
jangan sampai ktauan, ia akan berubah merah!” ucapmu meniru gelagat ibu saat
marah.
Kau
ingat?
Ya.,,
aku selalu menyimpan rahasia itu pada sungai yang kita tumpangi.
Kini
ia terapung di sungai Barito. Nduk
Tak
sengaja kulihat di telivisi pagi ini. ia membesar seperti hutang negri ini
Diatasnya
ada sayuran busuk, dengan ibuk-ibuk bertudung bambu
“Hei,
itu ibu!!,” Teriakku
kebayanya
berwarna merah, dan sedikit sobek dibagian samping.
roknya
bergambar batik yang kian pudar..
Dan
tudungnya, mungkinkah kau membuat tudung dalam persembunyian dulu?
haha..
kau terlalu.
hei.
Kudengar mereka berlayar dari bulan juni
Mencari
sayur ke ujung negri
Apa
ini,
Tidakkah
nyiur kita melambai indah?
Hmm…
Nduk, Apa yang kau fikirkan ktika perahu kita mulai tapaki bibir pantai?
Padang, 18 Juni 2012
PAGI YANG SIBUK, SEPRTI HARI INI
Kau tau, setiap pagi semua sibuk sedari tadi.
Ya. Sangat sibuk!
Seperti hari ini, kulihat fajar berlari menjemput pagi
Ia sampai lupa sarapan dan memakai kaus kaki.
Padahal aku amat hapal, ia tak pernah keluar dengan mata
kaki kelihatan
Tapi, aku tak akan seperti fajar
Karena telah kusiapkan
pagimu di meja hatiku, sedari malam.
Pula kupandangi embun
sedang dikejar cemas.
Getar-getir diseduhnya malam yang tinggal sepenggal
Sedang daun geleng-geleng kepala dan terus saja menyeruput
sisa-sisa angin malam
Tapi kau harus tahu, tak akan kubiarkan kau haus setiap
hari.
Telah kusewa hujan dari pukul 5, agar kau bisa menyeduhnya dan mbuat
pelangi untuk kita santap bersama.
Pun, kemudian kulihat induk ayam tengah membangunkan
anaknya.
“bagun nak, kau harus belajar seprti bapak”
“lihat-lihat.. bapakmu akan bekerja”, sambungnya bangga.
Sedang sianak terus saja melanjutkan mimpinya.
Haruskah aku begitu sayang,?
agar kau tak tertidur
lagi setelah kupanggil dengan kata-kata manis.
Oh. bahkan, kudengar Beo tetangga tengah berlatih vocal.
Ia sibuk menghapal draft yang di kasih majikannya
Terkadang ia dipukuli dan di teriak-teriaki karna tak hapal.
Yakinlah, kau tak perlu bersusah payah merapal kata
cinta,
Karena aku sudah tau.
Dulu.
aku selalu senang mengintipimu dari balik dinding kamar yang
bolong itu, setiap pagi
Kau selalu sibuk menulis.
Apakah pagi ini kau juga begitu?
Sibuk menggores masa lalu kita?
Tapi kau tak pernah tau bukan, aku turut sibuk menulis
disini. puisi untukmu, setiap pagi
Seperti hari ini.
10 Oktober 2012
Kamis, 16 Agustus 2012
Sebuah Cerita di Pagi Agustus
Selamat pagi pak. Bagaimana kabar mu?
Ah. Aku tau, kau amat menunggu hari ini, bukan? Setiap tahun. Ya! Setiap tahun.
Ah. Aku tau, kau amat menunggu hari ini, bukan? Setiap tahun. Ya! Setiap tahun.
Dengan sepatu mengkilap, dan baju yang baru
kau setrika, tadi malam!!
Haha.. lalu kau tersenyum dibalik rindu.
Setelah semalam suntuk kau memungut
remah-remah kenangan yang kau tinggalkan saat berjalan bersama izrail menemui Hatta, Sjahrir, dan pahlawan
lainnya. Aku yakin kau kini sedang duduk menunggu kami menyanyikan senandung
kemerdekan itu.
Tapi pak, maafkan aku. Aku tak turut bersama
mereka. Sepertinya aku ingin menulis saja disini, diberanda rumahku. Bukan!
Bukan karna aku tak sayang lagi padamu, bahkan sang saka tlah ku sematkan
diantara pagar bambu. Ia telah berkibar sejak 7 hari yang lalu. Dan sedari dulu
sudah merdeka di dalam dadaku.
Sayup-sayup lagu merdeka itu mulai bergema
dari tempat yang mereka sebut Istana Merdeka . jaraknya tak begitu jauh.
Tinggal berjalan sebentar, lalu kita akan sampai.
Ya.
Sepertimu, tentu semua orang bersepatu mengkilap dan berbaju rapih hari ini.
Tapi aku hanya akan menikmatinya disini, dengan baju kusam dan sendal yang
nyaris hangus. Walau hatiku sangat ingin bernyanyi untukmu, tapi sepatuku jadi
masalahnya. aku takut, jempolku menyembul saat mulai kudendangkan indonesia
raya itu.
Aku tak tau, mungkin jempolku ingin turut
memberi hormat padamu atau apalah. Tapi bapak-bapak itu tak jua berhenti
tertawa, saat melihatku dan sepatuku. Beritahu aku, apakah ini lucu?
Akupun tak tau, bagaimana cara buat baju
menjadi rapih itu pak.
semua kelas tlah kumasuki, tapi aku malah disuruh keluar. “Aku tak punya uang, jadi tak boleh tau”, ucap mereka! Jadi aku tak pernah mencoba berdiri dihadapan mereka dengan baju ini.
semua kelas tlah kumasuki, tapi aku malah disuruh keluar. “Aku tak punya uang, jadi tak boleh tau”, ucap mereka! Jadi aku tak pernah mencoba berdiri dihadapan mereka dengan baju ini.
Lalu biarkan aku disini pak, aku hanya ingin
menulis saja. Menikmati hari dengan mentari, lalu bernyanyi dan
memberi hormat pada bendera kita! bersama pipit dan gereja.
Padang, 12 Agust
2012
Senin, 23 Juli 2012
KIta di Kelima WaktuNya
dengar sayang, tlah kusampaikan salammu pada subuh
yang padanya slalu kau titipkan embun dimataku,
agar aku tak lupa membasuh mukamu dengan whudu'ku
lalu kita bersama-sama menulis sajak cinta diantara mentari dan cahaya pagi
tentu sayang, tlah kusiapkan doa untuk kau lahap zuhurmu
agar kau tak lupa menyapa mentari dibalik senyumNya
dan lihatlah, sebentar lagi senjas
udahkah kau selesaikan sajakmu dalam sujud keempat??
aku terlalu rindu belaian mentari pada laut ketika ia beranjak pergi.
kapan kita kan menjenguknya lagi?
dan tenanglah, sudah kusampaikan pada malam
agar menunggu kita yang sedang mencumbui sajadah.
Padang, 22 Juli 2012
Langganan:
Postingan (Atom)