5 hari lalu
hari itu kau menculikku lalu meraung seperti ambulance yang kepepet jalan Jakarta.
Ada apa?, tanyaku cemas setengah mati.
ada yang akan meninggal, jawabmu sambil membanting stir ke arah utara.
"aku ingin menguburnya, segera di laut jawa!, umurnya tinggal 120 jam lagi.
kita harus cepat!
26 mei 2013
Kau tau ini aneh, serumu di bangku kemudi.
Aku begitu takut tinggalkan ia sendiri.
27 mei 2013
72 jam lagi!
aku tengah siapkan kembang melati,
agar ia tetap wangi di saat terakhir nanti.
28 mei 2013
Kau tak berkabar.
sibuk memacu kudamu, sekencang jaguar.
29 mei 2013
hei, kita hampir sampai, teriakmu
tiba-tiba kau bagunkan aku
bau hari baru itu harum ya, kau terkekeh
30 mei 2013
oke. ini akhirnya,
kenakan pakaian yang kutinggalkan di wawl deru waktu, cha! perintahmu
lekas, pantik apinya
21 harus kita kremasi!
maka. kita berdoa depan abu yang siap kau tenggelamkan dalam laut kenangan.
akhh...
kau tau, doaku seperti apa?
aku tak berdoa.
hanya ucap selamat datang dua puluh dua
selamat jadi baru, kawan ku....
Laman
Kamis, 30 Mei 2013
Senin, 27 Mei 2013
cerita duapupuhdua
Dua puluh dua kali, kau kalah!, teriakku seru menadah tangan padanya di senja yang kian merah.
Saat itu, tengah bergulir kelereng berwarna putih susu diatas tanah yang kini berubah gedung-gedung beratap cerah.
Belum seratus kali, lenguhnya…
Ayo main lagi!
Tapi azan menghentikan debat kami yang lebih seru dari MPR saat ini.
Nakkkkkkkkkkkk… pulang, perintah ibu dari balik papan bertulis merdeka atau mati.
Lalu gemerncing kelereng menemani langkah riangku yang memenuhi tas bolongku. tentu.
Cing.. cing..
Waktu itu masih banyak pohon besar disini, kita bermain disana bukan.
Tunjukku pada gedung megah bertulis Bank BRI
Dan kau hanya mengangguk setuju.
Hei.. dua puluh dua tahun, kau kemana?
Mencoba perbaiki gambar Sulawesi yang kau tertawai dulu, jawabmu
Lalu?
Masih seperti dulu, rupanya aku tak pernah bisa menjadikannya indah, seperti inginmu
Wajah itu terlipat, sendu
akh..
Kau tak pernah tau, sejak kau datang hari itu
Telah kau lukis Indonesia itu lebih baik dari gambarmu
Di dalam hatimu
Aku lihat itu.
Jelasku,
hanya dalam hati.
Hei, Ayo main lagi, ajaknya sambil mengangkat dua puluh dua kelereng…
Tiba-tiba.
Padang, 27 Mei 2013
Saat itu, tengah bergulir kelereng berwarna putih susu diatas tanah yang kini berubah gedung-gedung beratap cerah.
Belum seratus kali, lenguhnya…
Ayo main lagi!
Tapi azan menghentikan debat kami yang lebih seru dari MPR saat ini.
Nakkkkkkkkkkkk… pulang, perintah ibu dari balik papan bertulis merdeka atau mati.
Lalu gemerncing kelereng menemani langkah riangku yang memenuhi tas bolongku. tentu.
Cing.. cing..
Waktu itu masih banyak pohon besar disini, kita bermain disana bukan.
Tunjukku pada gedung megah bertulis Bank BRI
Dan kau hanya mengangguk setuju.
Hei.. dua puluh dua tahun, kau kemana?
Mencoba perbaiki gambar Sulawesi yang kau tertawai dulu, jawabmu
Lalu?
Masih seperti dulu, rupanya aku tak pernah bisa menjadikannya indah, seperti inginmu
Wajah itu terlipat, sendu
akh..
Kau tak pernah tau, sejak kau datang hari itu
Telah kau lukis Indonesia itu lebih baik dari gambarmu
Di dalam hatimu
Aku lihat itu.
Jelasku,
hanya dalam hati.
Hei, Ayo main lagi, ajaknya sambil mengangkat dua puluh dua kelereng…
Tiba-tiba.
Padang, 27 Mei 2013
Senin, 13 Mei 2013
KOTA MATI
11 Mei
1 pm
Delapan belas jam menuju kota mati
Dan siul burung hantu yang kian basi
Yang duduk manis menunggu dua kompi tawa bayi
“Kota ini hambar, kawan”
5 pm
Lima jam yang mengerang
Mengeram
Tapi terpaksa diam
Disana, singgalang tengah minum kopi dengan merapi
“Mau kopi,” tawarnya
Lalu tersenyum seperti ibu yang menyemangati diri 10 jam lalu
“Iya. Silahkan,” senyumku mengembang lagi.
6.35 pm
Usus dan lambungku tengah bergulat hebat,
menendang, menceracau, lalu mendobrak kuat
“Halo.. dunia,” salam daging yang sudah kulumat
“Kami datang lagi.”
Tepat di kelok dua puluh empat
8 pm
Teruslah bersorak, kawan
Aku sedang nikmati pasawangan
3.30 am
Dua depa dan tanpa lawan
Asik melenggang 350 mil/jam
“Sudah sampai mana?,” tanya seorang yang mimpinya direnggut lagu
“Kota boneka!,” jawab yang duduk disamping jendela. ia disihir sibolga
Lalu dikumpulnya lagi sisa-sisa malam yang berserak di penghujung subuh
9.37 am
Lepaskan penatmu, sayang
Selamat mengadu pada dipan kerasku
Fansury kini tersenyum
Tamunya datang lagi
“Selamat datang di kota sejarah, kota budaya, dan kota religi,” sambut seorang di baliho
Kawan, kita sampai
12 mei
10 am
Lima ratus langkah lelah
Menjejal setapak mendamba 7,5 m telah
Hei lihat! Tinggal 50 langkah
Teruslah tatapi langit cerah,
Agar kau tak menyerah
Lima ratus langkah tabah
Sebentar lagi sayang, kita beristirah
Teruslah semangati kakimu yang kian lelah
Untukmu, batu panjang yang megah
Akan kucerita saat malam sedang cerah
Tentang kota megah sampai kau mati, pak gagah
Lalu bersiaplah jadi indah
Barus, 13 mei 2013
1 pm
Delapan belas jam menuju kota mati
Dan siul burung hantu yang kian basi
Yang duduk manis menunggu dua kompi tawa bayi
“Kota ini hambar, kawan”
5 pm
Lima jam yang mengerang
Mengeram
Tapi terpaksa diam
Disana, singgalang tengah minum kopi dengan merapi
“Mau kopi,” tawarnya
Lalu tersenyum seperti ibu yang menyemangati diri 10 jam lalu
“Iya. Silahkan,” senyumku mengembang lagi.
6.35 pm
Usus dan lambungku tengah bergulat hebat,
menendang, menceracau, lalu mendobrak kuat
“Halo.. dunia,” salam daging yang sudah kulumat
“Kami datang lagi.”
Tepat di kelok dua puluh empat
8 pm
Teruslah bersorak, kawan
Aku sedang nikmati pasawangan
3.30 am
Dua depa dan tanpa lawan
Asik melenggang 350 mil/jam
“Sudah sampai mana?,” tanya seorang yang mimpinya direnggut lagu
“Kota boneka!,” jawab yang duduk disamping jendela. ia disihir sibolga
Lalu dikumpulnya lagi sisa-sisa malam yang berserak di penghujung subuh
9.37 am
Lepaskan penatmu, sayang
Selamat mengadu pada dipan kerasku
Fansury kini tersenyum
Tamunya datang lagi
“Selamat datang di kota sejarah, kota budaya, dan kota religi,” sambut seorang di baliho
Kawan, kita sampai
12 mei
10 am
Lima ratus langkah lelah
Menjejal setapak mendamba 7,5 m telah
Hei lihat! Tinggal 50 langkah
Teruslah tatapi langit cerah,
Agar kau tak menyerah
Lima ratus langkah tabah
Sebentar lagi sayang, kita beristirah
Teruslah semangati kakimu yang kian lelah
Untukmu, batu panjang yang megah
Akan kucerita saat malam sedang cerah
Tentang kota megah sampai kau mati, pak gagah
Lalu bersiaplah jadi indah
Barus, 13 mei 2013
Minggu, 28 April 2013
Rindu Upacara
Hari ini, akan kudengar lagi dendang itu.
tentu,tak ketinggalan iring-iringan kaki bocah yang bergemuruh seru.
berlari walau sepatu tak utuh.
“Ayo, cepat! Nanti kita terlambat”, ucapnya, seorang dengan tas plastic merah jambu
“Akh.. gerbangnya udah ditutup,” lapor siplastik biru.
pagi yang kurindu…
Hei, bagaimana wajahmu hari ini?
aku ingin megantarmu ketempat tinggi itu lagi.
sungguh.
melawan mentari adalah inginku
untukmu, tentu
beriring lagu dan tatapan beribu disekolah dua puluh satu.
Kau tau,
rasanya lagi amat ingin berdiri tegap dihadapamu
memberi hormat walau terkadang harus beradu mata dengan surya
menatapmu saja seperti mengangkat runcingnya bambu
ohh. Sungguh indah memelukmu, dulu.
lalu menatapmu berkibar sambil kusenandungkan merdeka.
Tapi, mengapa Lantangnya kini kudenggar jauh?
mendayu tak lagi seru.
seperti lagu melayu.
bersama embun yang menangisi deadaunan layu
juga pipit yang mencicit tak lagi merdu
apa kau lelah berkibar untukku.
Sabtu, 27 April 2013
Lupa senja
lalu, biarlah sejenak kunikmati riuh ini.
peneman madre dan gorengan yang kubeli di gang sebelah rumah.
sungguh, ini seperti senja yang kita seduh desember lalu;
hei, apa kau ingat?
ah. kau tentu terlalu sibuk tuk sekedar memberi senyum pada masa lalu.
aku tau itu.
dan hari ini,
hari ini aku hanya akan menegaknya sendiri,
air mataku sendiri
padang, april2013
peneman madre dan gorengan yang kubeli di gang sebelah rumah.
sungguh, ini seperti senja yang kita seduh desember lalu;
hei, apa kau ingat?
ah. kau tentu terlalu sibuk tuk sekedar memberi senyum pada masa lalu.
aku tau itu.
dan hari ini,
hari ini aku hanya akan menegaknya sendiri,
air mataku sendiri
padang, april2013
RINDU
Apa kabar manis?
hari ini angin menyanyi namamu sepanjang detik berdentum berganti lagu.
oh. tanpa hujan,tentu!
ia berdendang bersama langit biru
seperti mengerti, daunpun ikut berseru merdu.
Tidakkah kau rasai itu?
sedang apa kau, cantik?
semalam, aku iseng menggambari rupamu yang mulai tersapu waktu.
dan kupetik bintang, tuk jadi jerawat lucumu diatas kanvasku
akh. tapi mengapa wajahmu jadi seperti domba ungu?
mungkinkah, karna saat itu kelam tengah menemaniku menghitung domba dungu?
dimana kau kini sayang?
masih ingatkah kau pada janji kita dulua
kan bertemu lagi, di akhir lagu.
akh... semoga tidurmu selalu berselimut rindu,
hari ini angin menyanyi namamu sepanjang detik berdentum berganti lagu.
oh. tanpa hujan,tentu!
ia berdendang bersama langit biru
seperti mengerti, daunpun ikut berseru merdu.
Tidakkah kau rasai itu?
sedang apa kau, cantik?
semalam, aku iseng menggambari rupamu yang mulai tersapu waktu.
dan kupetik bintang, tuk jadi jerawat lucumu diatas kanvasku
akh. tapi mengapa wajahmu jadi seperti domba ungu?
mungkinkah, karna saat itu kelam tengah menemaniku menghitung domba dungu?
dimana kau kini sayang?
masih ingatkah kau pada janji kita dulua
kan bertemu lagi, di akhir lagu.
akh... semoga tidurmu selalu berselimut rindu,
Senin, 15 April 2013
matahari redup
dan kini, aku tak mau lagi menatap senyum mentari
bahkan sedari embun yang cumbui dedaunan pagi
merayap seperti pasar pagi.
hari itu, ia berjalan beriring hingga petang hari
bertudung dan bersarung salendang penikmat kaki
ia, bernama bulan
penyeduh malamku berwarna kelabu
jadi teh hangat atau capuccinno cream khas ibu
hingga pagi dtang menyapa,
ia telah bergeriliya mencari sayuran utuh.
taoi hari itu ia tak mampu lagi masukkan gula dalam cangkirku.
bahkan untuk pindah dari dipan ungu
kaku.
dan kini, matahari itu tlah redup dimataku
bahkan semenjak ibu kaku
dan ia ikut kaku.
membantu disudut rumah yang berseliweran babu.
13 April 2013
bahkan sedari embun yang cumbui dedaunan pagi
merayap seperti pasar pagi.
hari itu, ia berjalan beriring hingga petang hari
bertudung dan bersarung salendang penikmat kaki
ia, bernama bulan
penyeduh malamku berwarna kelabu
jadi teh hangat atau capuccinno cream khas ibu
hingga pagi dtang menyapa,
ia telah bergeriliya mencari sayuran utuh.
taoi hari itu ia tak mampu lagi masukkan gula dalam cangkirku.
bahkan untuk pindah dari dipan ungu
kaku.
dan kini, matahari itu tlah redup dimataku
bahkan semenjak ibu kaku
dan ia ikut kaku.
membantu disudut rumah yang berseliweran babu.
13 April 2013
Langganan:
Postingan (Atom)