Kini, kau tau?
Gemamu tak lagi kurasa.
Walau entah berapa kali kau coba berteriak di tebing duka.
Tapi seperti ditelan suka,
kau kehilangan suara.
Pula,
kulihat pelangimu kehilangan warna.
Bukankah sudah kita beli cat berjuta-juta?
Tapi mengapa?
Abu-abu saja .
Yang kau gambari di kanvasmu yang kian tua
Tidakkah kau lihat merah, kuning bahkan hijau disana?
Mereka berharap untuk kau raba.
Dan kini pula,
kulihat mendung kian mendekati kau, pak tua.
Bersiap turuni hujani tawa, yang entah dari siapa?
Kau yang kini menunduk saja,
cobalah mendongak sejenak.
Masih ada mentari di sana.
Hei..
Mengapa kau sembunyi dibalik senja?
Mengapa diam saja?
Ayolah,
aku membawakanmu pagi ceria.
Mengajakmu memulai lagi, semua.
Padang, 27 maret 2013
Laman
Rabu, 27 Maret 2013
Kamis, 14 Maret 2013
Ingin Mati
aku pernah bermimpi.
tenggelam di laut mati
agar tak ada yang tau aku pergi
mengambang sendiri sampai digigiti pari.
aku pernah bermimpi.
mati di dalam tidurku yang sepi
agar tak sempat kulihat kau termagu sendu,
saat malaikat maut datang memanggul palu.
tapi aku ingin mati disampingmu,
agar kau selalu ingat, aku yang selalu bernafas untukmu.
Padang, 13 Mei 2013
tenggelam di laut mati
agar tak ada yang tau aku pergi
mengambang sendiri sampai digigiti pari.
aku pernah bermimpi.
mati di dalam tidurku yang sepi
agar tak sempat kulihat kau termagu sendu,
saat malaikat maut datang memanggul palu.
tapi aku ingin mati disampingmu,
agar kau selalu ingat, aku yang selalu bernafas untukmu.
Padang, 13 Mei 2013
Rabu, 30 Januari 2013
sampai bertemu
:iyon
adalah sungai tempat labuh perahuku
yang menuntun mengeja detik sebelumku direnggut laut abu-abu
sampai bertemu, teriakmu
lalu riakmu kian laju, antar aku
hei, ketemu dimana?
sedang kau hanya tersenyum beku.
dan belum sampai aksaraku,
riakmu sudah berubah ombak berderu..
sampai bertemu, senduku ...
Selasa, 15 Januari 2013
KECEWA
kini, tak adakah lilin yang bisa kau bagi?
Bahkan untuk sekedar terangi wajanmu agar tak tumpah kutuangi pelangi.
Apalagi tuk setapak ini.
Dulu, kau selalu bermimpi jadi mentari
Tapi mengapa kini kita hanya bermain di tepian kali?
Lalu bagaimana cara panjati langit tinggi?
Jika kita hanya berkunang-kunang dalam gelapnya mimpi.
Akh...
Kau tentu tau,
Badai tak kan kekal bersemi.
Bahkan untuk sekedar terangi wajanmu agar tak tumpah kutuangi pelangi.
Apalagi tuk setapak ini.
Dulu, kau selalu bermimpi jadi mentari
Tapi mengapa kini kita hanya bermain di tepian kali?
Lalu bagaimana cara panjati langit tinggi?
Jika kita hanya berkunang-kunang dalam gelapnya mimpi.
Akh...
Kau tentu tau,
Badai tak kan kekal bersemi.
Kamis, 03 Januari 2013
DI MALAM TAHU BARU II
Hei langit,
Apa kabar malammu?
Apa kabar kejoramu?
Apa kabar bulamu?
Kau tahu, aku ingin bercerita.
Turunlah sebentar, duduk disini bersamaku.
Menyeduh waktu.
Sungguh, rupanya aku tak tertarik lagi dengan sorak sorai terompet ini.
Bahkan, pada warna-warni wajahmu nanti.
Entah mengapa, aku ingin memelukmu saja.
Agar tak jadi abu,
Seperti kembang api itu.
Berteriak lalu hilang ditelan sendu.
Menjadi dungu.
AKu, Tak ingin pergi.
Tak ingin beli peti
Untuk simpan engkau jadi masalalu.
Sungguh,
tetaplah disini.
Bersamaku mengejar mimpi
Padang, Januari 2013
Apa kabar malammu?
Apa kabar kejoramu?
Apa kabar bulamu?
Kau tahu, aku ingin bercerita.
Turunlah sebentar, duduk disini bersamaku.
Menyeduh waktu.
Sungguh, rupanya aku tak tertarik lagi dengan sorak sorai terompet ini.
Bahkan, pada warna-warni wajahmu nanti.
Entah mengapa, aku ingin memelukmu saja.
Agar tak jadi abu,
Seperti kembang api itu.
Berteriak lalu hilang ditelan sendu.
Menjadi dungu.
AKu, Tak ingin pergi.
Tak ingin beli peti
Untuk simpan engkau jadi masalalu.
Sungguh,
tetaplah disini.
Bersamaku mengejar mimpi
Padang, Januari 2013
Rabu, 28 November 2012
HANYA KAU
kau tau...
terkadang, ingin kugambari engkau seperti baja hitam..
tapi.. baja hitam mana yang punya mata lebih canggih dari lensa LSR?
kau tau kan, matanya seperti lebah yang mati.
bahkan ingin kulukis pula engkau seperti peri
tapi peri tak ada yang berwajah lucu!
ibu bilang, peri itu cantik. bukan lucu
sesekali, aku jahil samakan engkau dengan TOM
namun, TOM hanya dikerjai JERRY.
sedang kau, teman-temanmu lebih jahil dari JERRY.
sungguh, aku jadi geli saat kubongkar lagi, gudang kenang itu.
ahh.. sahabat mana yang mau temani sahabatnya beli indomie.
kurasa cuma engkau..
lalu pahlawan mana yang sekonyong-sekonyongnya masuk bak mandi dan cemas setengah mati..
hanya kau
terkadang, ingin kugambari engkau seperti baja hitam..
tapi.. baja hitam mana yang punya mata lebih canggih dari lensa LSR?
kau tau kan, matanya seperti lebah yang mati.
bahkan ingin kulukis pula engkau seperti peri
tapi peri tak ada yang berwajah lucu!
ibu bilang, peri itu cantik. bukan lucu
sesekali, aku jahil samakan engkau dengan TOM
namun, TOM hanya dikerjai JERRY.
sedang kau, teman-temanmu lebih jahil dari JERRY.
sungguh, aku jadi geli saat kubongkar lagi, gudang kenang itu.
ahh.. sahabat mana yang mau temani sahabatnya beli indomie.
kurasa cuma engkau..
lalu pahlawan mana yang sekonyong-sekonyongnya masuk bak mandi dan cemas setengah mati..
hanya kau
FISIKA HATIKU
-menuju kematian-
*Sepertinya, Badai Serotonin itu kini menari indah dalam kepalaku.
Membuat fluktuasi emosi berwarna-warni seperti pelangi
Ahh.. Atraktor rindu yang kau lukis melambai bagai angin musim dingin.
Mencipta sinyal-sinyal nonlokalku kian dibawa awan
Hingga semua seperti suara kresek-kresek radio yang kehilangan satelit
Atau garis-garis statis televisi kala bulan ucap selamat malam pada pujangga?.
Hilang
*Kau tau, kau amat mampu memaku otakku untuk 29 frame potret lakumu
29? Yaaa.. sebenarnya 30.
Namun satunya tlah kau buang, karna kau ucap terlalu abu-abu
Padahal hari itu senja bagitu jingga. Bagaimana bisa abu-abu?
*Dan aku jadi seperti Ombak Soliton di tengah laut pasifik
Berselimut Katrina di tengahnya
Hingga pandanganku menjadi kabut
menuju Bifurkasi kepingan-kepingan masalalu kita.
Ini labirin apa? Teriakku
Kemana kau ajak aku berlari, lagi?
*oh. kau tak pernah tau bukan,
Bagaimana hatiku kau buat jadi Fraktal-Fraktal aneh tak beraturan?
Mungkin seperti puzzle lego yang selalu kita mainkan
Celakanya, kini aku tak mampu lagi menyusun Fragmen yang berserak ini
Walau dulu, aku selalu mampu kalahkan engkau
Bermain
Dan nyatanya, benar saja. ini bukan lagi lego keberuntunganku!
Kau menang sayang, untuk kali ini.
*andai, di otakku ada tombol delete,
Mungkin sudah aku tekan saja ia, detik ini.
Biar hilang semua. Biar aku jadi orang gila
Tapi sayang, kepalaku adalah mesin penyimpan waktu
Sungguh, kau seperti Alkaline hingga tak mudah aku lepas padam
Bahkan dalam kematianku
Kematian hidupku, tanpamu
Padang, 28 november 2012 (naf)
Langganan:
Postingan (Atom)