Laman

Kamis, 16 Agustus 2012

Sebuah Cerita di Pagi Agustus




Selamat pagi pak. Bagaimana kabar mu?
Ah. Aku tau, kau amat menunggu hari ini, bukan? Setiap tahun. Ya! Setiap tahun.
Dengan sepatu mengkilap, dan baju yang baru kau setrika, tadi malam!!
Haha.. lalu kau tersenyum dibalik rindu. Setelah semalam suntuk kau memungut  remah-remah kenangan yang kau tinggalkan saat berjalan bersama  izrail menemui Hatta, Sjahrir, dan pahlawan lainnya. Aku yakin kau kini sedang duduk menunggu kami menyanyikan senandung kemerdekan itu.
Tapi pak, maafkan aku. Aku tak turut bersama mereka. Sepertinya aku ingin menulis saja disini, diberanda rumahku. Bukan! Bukan karna aku tak sayang lagi padamu, bahkan sang saka tlah ku sematkan diantara pagar bambu. Ia telah berkibar sejak 7 hari yang lalu. Dan sedari dulu sudah merdeka di dalam dadaku.
Sayup-sayup lagu merdeka itu mulai bergema dari tempat yang mereka sebut Istana Merdeka . jaraknya tak begitu jauh. Tinggal berjalan sebentar, lalu kita akan sampai.
 Ya. Sepertimu, tentu semua orang bersepatu mengkilap dan berbaju rapih hari ini. Tapi aku hanya akan menikmatinya disini, dengan baju kusam dan sendal yang nyaris hangus. Walau hatiku sangat ingin bernyanyi untukmu, tapi sepatuku jadi masalahnya. aku takut, jempolku menyembul saat mulai kudendangkan indonesia raya itu.
Aku tak tau, mungkin jempolku ingin turut memberi hormat padamu atau apalah. Tapi bapak-bapak itu tak jua berhenti tertawa, saat melihatku dan sepatuku. Beritahu aku, apakah ini lucu?
Akupun tak tau, bagaimana cara buat baju menjadi rapih itu pak.
semua kelas tlah kumasuki, tapi aku malah disuruh keluar. “Aku tak punya uang, jadi tak boleh tau”, ucap mereka! Jadi aku tak pernah mencoba berdiri dihadapan mereka dengan baju ini.
Lalu biarkan aku disini pak, aku hanya ingin menulis  saja. Menikmati  hari dengan mentari, lalu bernyanyi dan memberi hormat pada bendera kita! bersama pipit dan gereja.


Padang, 12 Agust 2012




Senin, 23 Juli 2012

KIta di Kelima WaktuNya


dengar sayang, tlah kusampaikan salammu pada subuh
yang padanya slalu kau titipkan embun dimataku,
agar aku tak lupa membasuh mukamu dengan whudu'ku
lalu kita bersama-sama menulis sajak cinta diantara mentari dan cahaya pagi 

tentu sayang, tlah kusiapkan doa untuk kau lahap zuhurmu
agar kau tak lupa menyapa mentari dibalik senyumNya 

dan lihatlah, sebentar lagi senjas
udahkah kau selesaikan sajakmu dalam sujud keempat??

aku terlalu rindu belaian mentari pada laut ketika ia beranjak pergi.
kapan kita kan menjenguknya lagi?

dan tenanglah, sudah kusampaikan pada malam
agar menunggu kita yang sedang mencumbui sajadah.

Padang, 22 Juli 2012 

Kamis, 14 Juni 2012

Padamu


Sebuah surat kulayarkan padamu
Berharap sampai  di tanganmu yang kian layu
Kubuat  berbentuk kapal pesiar, agar kau  mampu menbaca hari
Tengah badai besar disini.

Kau tau, aku terlalu tua untuk mendayung sampan
Aku terlalu lemah untuk berteriak, “putar haluan”
Entah knapa,mungkin karna kau telah tenggelam dalam fikiran.

Dan laut ternyata terlalu lebar dari selembar peta
Terlalu besar dari bentangan atlas dunia
Terlalu panjang dari yang kita bayangkan dahulu
Dan ya. terlalu banyak bajak laut disini.
Hingga aku tak yakin, harus prcaya pada siapa.

Aku hanya mampu membuatnya dari kertas yang trpaksa aku ambil dari tong sampah
Bekas bungkusan lado kitiang agar kau tau betapa miskinnya kita hari ini.
Betapa laparnya anak kita setiap hari
Betapa  tangis cucu-cucumu membangukanku setiap malam
Betapa aku trlalu bingung dengan smua,
 dengan tangis, dengan jerit, dengan hempasan,  dengan laut, dan
dengan kau!


Aku rasa badai ini semakin gila
Tapi aku tak tau kemana kan jelang senja
Mata angin brputar sekenanya, tak jelas lagi arahnya.
                                                                                                                                       
Padang, Juni 2012

Kamis, 07 Juni 2012

KABAR ANGIN


Tiba-tiba kau berteriak di pertengahan juni
Dalam sunyi malam yang kian buram.
Hari keberapa ini?
adakah kau mengukur perjalanan detik?
kau tau,, kita seperti daun yang menunggu gugur.
lalu apa guna hujan?
jika rautmu kemarau sepanjang tahun, ucapmu

Lalu apa?
biarkan saja pelangi melele ke cangkirmu.

hei. menit kian tenggelam sayang.
kemana harus kulihat matahari terbit kini?
mungkinkah sudah bergeser ke utara?

lalu bagaimana?
tak ada yang peduli dengan detak bumi.
siapkan saja mantelmu,
bulan hujan segera datang.

Padang, Juni 2012

PADAMU



(1)
Assalamu’alaikum pak?
bgaimana kabar tmpat tidurmu?
Masihkah sekeras dulu?
sampai-sampai encok tak lupa menyapamu saat mentari memberi senyum.
hha. bukankah sudah kubeli yang baru.
Aku membatu dalam rumh kita, pak
adik terlalu bringas
hingga semua kulihat seperti kapal pecah
Tidak! Ini lebih dari hancur..
(2)
Aku tak bnar-benar merasa mentari selalu sama
hingga kau tersapu badai,
ku rasa hantaman hujan selalu memberi pembenaran.
Aku tak mengerti kemana kan ku cari bidadari,
kau bilang ia dibalik pelangi, kala hujan reda
tapi setiap hari aku hanya melihat bijinya dari pagi
(3)
Berapa kali harus kukatakan, pak?
aku tak menemukan sapunya..
seperti yang kau ucap dulu, selalu kau taruh dibalik pintu
Sungguh pak. Mungkinkah ia kau bawa mati?
atau-atau dicuri nenek sihir?
hari esok siapa yang tau pak.

bukankah dulu kau pernah bercerita di bawah temaram obor kala malam idul fitri,
nenek sihir manapun sangat menginginkan sapu kita.
tapi kemana ia sekarang?
tak ada jejak pada jalan pulang.
Aku ingin membersihkan kapal kita..
(4)
Malam ini aku minum kopi dan jagung bakar dibawah bulan
sungguh indah!
adakah maut semanis itu?
hingga kau enggan duduk bersamaku, sampai fajar menyapa
sekedar bercengkrama tentang Soekarno, atau proklamasi kita.
Atau bertingkah seperti daun.
seperti  daun yang menunggu layu.
                                                                                                                                                                Padang, Juni 2012

Sabtu, 05 Mei 2012

KAU DAN HUJAN


Aku masih menyimpan rinai itu dalam lemari kacaku,
yang kita curi ketika hujan terakhir turun kebumi, hari itu.
“simpan dan perlihatkan ketika teman-temannya datang menjenguk,” ucapmu sebelum berlalu

Kau tau, aku masih ingat bagaimana ia memborbadir hari itu?
lalu kita tertawa dibawah keladi tua
Tntu saja, karna ia kusimpan brsama rinai yang kian menua

saat kau ucap sampai brtmu lagi .
kau tau, aku memluknya hingga nafasnya trsngal

ketika kau ucap bayangku tlah kau bingkai pada senja,
dan kau brjanji akan membagi bayangmu yang kau bingkai pada fajar,
aku akan menunggu bersama hujan!
ah, bodoh sekali.
aku tak mampu menympan rindu pada bising rintik

dan hari ini, sang teman mnjenguknya kembali.
seprti biasa aku mmbawanya keluar lagi,
dan biarkan ia brcengkrama lagi
sampai temannya berucap akan kembali, kuharap mereka mebawamu ikut serta

PAdang, 04 mei 2012 

AKAN KUBUAT PUISI


Jalan ini kan kubuat puisi
agar aku tak tersesat mencari knang yang kita tinggalkan dijalan Braga
untuk sekedar mngumpulkan tawa yang tak sempat kita kemas sebelum pulang
untuk sekedar mngucapkan halo pada jejak di depan pintu gerbang masa lal

Cerita ini kan kubuat puisi
agar kau tau kemana arah memnemukanku, di akhir kisah.
dan kita kenal jalan akan berlabuh
lalu kita akan sangat mudah bersua di bawah tulisan “selamat Datang Kembali”

Untukmu yang kutau sedang merindu
jangan jatuhkan semua, ktika mendengar dendang itu
sisakan sedikit untuk kita minum bersama
akupun masi menyimpan airmatamu dlam buku harianku.
agar kita bisa bersulang ketika bersua

kau tau, sejarah itu kan brulang, bukan??


Jakarta, 28 April 2012