Laman

Minggu, 18 Agustus 2013

SAJAK DI HARI MERDEKA

Kawan..
Hari ini aku hanya akan merapat dan menatap pantai kita yang kian hitam.
Sambil menghisap lambat sebatang rokok yang dengannya aku berharap bisa mengelabui pandangan.
yap! kotoran laut di depan, berubah jadi berlian.
Cling!!

Akh… Bukan apa-apa,
Sudah kucoba seperti Balaputeradewa.
Menguasai Asia tenggara.
Tapi apa daya, layarku tak mampu terkembang bangga lebih lama.
Sepertinya ini buatan Cina, bukan Amerika.
Padahal sangat ingin kupamerkan karyaku pada dunia.
Sekalian menjaja, siapa tahu ada yang suka.
“Bu… beli bu…”
“Pak… beli pak..”
“Tiga seribu aja..”

Tapi, apa kau tau?
Ikan-ikan saja berpaling dariku.

Ukh, ia!
Aku lupa.
Negeri kita tak lagi sebesar dalam peta. (naf)

17 Agustus 2013

Rabu, 19 Juni 2013

BADAI

suatu kali aku mengadu pada lengan ibu,
“Bu, tolong tutup kupingku.. mengapa suara badai seperti tertawaan setan?”
Ucapku
Tapi, ibu hanya tersenyum. Melepaskan tanganku dari kupingnya, lalu berujar
“Dengar nak, Tuhan adalah composer music paling ulung”.

Kali lain, aku mengadu pada mata ibu,
“Bu. Tolong tutup mataku. Aku takut menatap pohon itu. Bergoyang seperti iblis kegirangan”
Tapi, lagi lagi ibu tersenyum. Sambil membuka matanya, ia berucap
“Lihat nak, mereka yang sedang asyik bersukur menikmati gelitikan angin. Mereka senang. Sangat lucu.”

Hari lalu, aku mengadu pada perut ibu…
“Ibu, aku kedinginan. Tolong masukkan lagi aku dalam rahimmu”
Tapi, disampingku ternyata ibu sedang bernyanyi.
“Tik tik tik bunyi hujan di atas genting. Airnya turun tidak terkira. Cobalah tengok dahan dan ranting. Pohon dan kebun basah semua.
Tik tik tik bunyi hujan bagai bernyanyi. Saya dengarkan tidaklah jemu. Kebun dan jalan terlihat sunyi. Tiada seorang berani lalu.
Tik tik tik bunyi hujan dalam selokan. Tempatnya itik berenang-renang. Besenda gurau bersenang-senang. Karena hujan berenang renang”
Ia bernyanyi sampai badai henti



Hari ini, badai datang lagi.
Dan aku menyambutnya dengan senyum ibu.
Sambil bernyanyi, lalu berucap
“Kawan, kita ketemu lagi.”

Padang, 19 Juni 2013

SELAMAT ULANG TAHUN



Senja ini, aku sendiri…
Meniup hari-hari kita yang semakin sepi
Tanpa kau yang selalu bernyanyi entah, hingga rumah kita tak pernah nyepi, karena tawa.

Senja ini, aku sendiri …
Memotong tumpukan kenangan kita disini
Menjadi .
“kue pertama untukmu,” menyodorkannya padamu yang selalu tersenyum di daun pintu kita yang usang.
“enak,?” tanyaku, gagap.

Menunggumu memamah kenang, aku Iseng pandangi kita pada leptop bermerek ASUS, yang kau tinggalkan.
Kita selalu membukanya bukan, saat berkumpul menikmati malam.
Bercerita tentang bob marley atau seorang bernama selno gumira.
Akh.. bagaimana caranya mengulang mimpi?
Kau tau,
Ada tawa yang tak kan kulupa
Ada tangis yang selalu kudamba
Ada … ah, kau tentu tau rupanya.


Senja ini, aku sendiri..
Bernyanyi lagu kebangsaan kita,
Sambilnya aku membaca postingan seorang saudara di layar komputer
” UK-KES sekarank ulang tahun ,, meskipun tidak ada acara ,, setidaknya marilah kita berkumpul di sekre tercinta kita ,, !

Saatnya make a wish…

18 Juni 2013

Jumat, 07 Juni 2013

Ibu, Tunggu Aku

Ibu, Tunggu Aku

Tremku laju diantara pasawangan yang masih malu dirayu banyu.
sekarang pukul enam lewat tujuh.
hujan turun sedari subuh
memeluk takbir, lalu bersama mencumbu sajadah.
bahkan sampai salam terakhir sholatku, ia tak kunjung henti bertasbih,
banyu itu.

AKu hendak menjemput ibu.
ia tersesat dalam doanya yang panjang bergulung.
"Ibu rindu bermain bersama lupa. jadi ibu masuk labirin doa"
begitu sms ibu kubaca selesai melipat mukena tuanya.

aku ingat tiga bulan lalu,
ibu mengirimku sms serupa
tapi ketika aku sampai dilereng doa
ibu tengah minum teh bersama temannya, si bunian

hari ini, entah bersama siapa ia bermain ayunan.
ah ibu,
tunggu aku.

Silaiang, 7 Juni 2013

Kamis, 30 Mei 2013

22

5 hari lalu
hari itu kau menculikku lalu meraung seperti ambulance yang kepepet jalan Jakarta.
Ada apa?, tanyaku cemas setengah mati.
ada yang akan meninggal, jawabmu sambil membanting stir ke arah utara.
"aku ingin menguburnya, segera di laut jawa!, umurnya tinggal 120 jam lagi.
kita harus cepat!

26 mei 2013
Kau tau ini aneh, serumu di bangku kemudi.
Aku begitu takut tinggalkan ia sendiri.

27 mei 2013
72 jam lagi!
aku tengah siapkan kembang melati,
agar ia tetap wangi di saat terakhir nanti.

28 mei 2013
Kau tak berkabar.
sibuk memacu kudamu, sekencang jaguar.

29 mei 2013
hei, kita hampir sampai, teriakmu
tiba-tiba kau bagunkan aku
bau hari baru itu harum ya, kau terkekeh

30 mei 2013
oke. ini akhirnya,
kenakan pakaian yang kutinggalkan di wawl deru waktu, cha! perintahmu
lekas, pantik apinya
21 harus kita kremasi!
maka. kita berdoa depan abu yang siap kau tenggelamkan dalam laut kenangan.
akhh...
kau tau, doaku seperti apa?
aku tak berdoa.
hanya ucap selamat datang dua puluh dua
selamat jadi baru, kawan ku....



Senin, 27 Mei 2013

cerita duapupuhdua

Dua puluh dua kali, kau kalah!, teriakku seru menadah tangan padanya di senja yang kian merah.
Saat itu, tengah bergulir kelereng berwarna putih susu diatas tanah yang kini berubah gedung-gedung beratap cerah.
Belum seratus kali, lenguhnya…
Ayo main lagi!
Tapi azan menghentikan debat kami yang lebih seru dari MPR saat ini.
Nakkkkkkkkkkkk… pulang, perintah ibu dari balik papan bertulis merdeka atau mati.
Lalu gemerncing kelereng menemani langkah riangku yang memenuhi tas bolongku. tentu.
Cing.. cing..

Waktu itu masih banyak pohon besar disini, kita bermain disana bukan.
Tunjukku pada gedung megah bertulis Bank BRI
Dan kau hanya mengangguk setuju.
Hei.. dua puluh dua tahun, kau kemana?
Mencoba perbaiki gambar Sulawesi yang kau tertawai dulu, jawabmu
Lalu?
Masih seperti dulu, rupanya aku tak pernah bisa menjadikannya indah, seperti inginmu
Wajah itu terlipat, sendu

akh..
Kau tak pernah tau, sejak kau datang hari itu
Telah kau lukis Indonesia itu lebih baik dari gambarmu
Di dalam hatimu
Aku lihat itu.
Jelasku,
hanya dalam hati.

Hei, Ayo main lagi, ajaknya sambil mengangkat dua puluh dua kelereng…
Tiba-tiba.

Padang, 27 Mei 2013

Senin, 13 Mei 2013

KOTA MATI

11 Mei
1 pm
Delapan belas jam menuju kota mati
Dan siul burung hantu yang kian basi
Yang duduk manis menunggu dua kompi tawa bayi
“Kota ini hambar, kawan”

5 pm
Lima jam yang mengerang
Mengeram
Tapi terpaksa diam
Disana, singgalang tengah minum kopi dengan merapi
“Mau kopi,” tawarnya
Lalu tersenyum seperti ibu yang menyemangati diri 10 jam lalu
“Iya. Silahkan,” senyumku mengembang lagi.

6.35 pm
Usus dan lambungku tengah bergulat hebat,
menendang, menceracau, lalu mendobrak kuat
“Halo.. dunia,” salam daging yang sudah kulumat
“Kami datang lagi.”
Tepat di kelok dua puluh empat

8 pm
Teruslah bersorak, kawan
Aku sedang nikmati pasawangan

3.30 am
Dua depa dan tanpa lawan
Asik melenggang 350 mil/jam
“Sudah sampai mana?,” tanya seorang yang mimpinya direnggut lagu
“Kota boneka!,” jawab yang duduk disamping jendela. ia disihir sibolga
Lalu dikumpulnya lagi sisa-sisa malam yang berserak di penghujung subuh

9.37 am
Lepaskan penatmu, sayang
Selamat mengadu pada dipan kerasku
Fansury kini tersenyum
Tamunya datang lagi
“Selamat datang di kota sejarah, kota budaya, dan kota religi,” sambut seorang di baliho
Kawan, kita sampai


12 mei
10 am
Lima ratus langkah lelah
Menjejal setapak mendamba 7,5 m telah
Hei lihat! Tinggal 50 langkah
Teruslah tatapi langit cerah,
Agar kau tak menyerah

Lima ratus langkah tabah
Sebentar lagi sayang, kita beristirah
Teruslah semangati kakimu yang kian lelah

Untukmu, batu panjang yang megah
Akan kucerita saat malam sedang cerah
Tentang kota megah sampai kau mati, pak gagah

Lalu bersiaplah jadi indah

Barus, 13 mei 2013